<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Al-Tanwir - Buletin ]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin]]></link><description><![CDATA[Buletin ]]></description><pubDate>Wed, 26 Jun 2024 09:22:12 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Ali bin Abi Thalib as dan Keadilan Insani [by Jalaluddin Rakhmat]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/ali-bin-abi-thalib-as-dan-keadilan-insani-by-jalaluddin-rakhmat]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/ali-bin-abi-thalib-as-dan-keadilan-insani-by-jalaluddin-rakhmat#comments]]></comments><pubDate>Fri, 26 Apr 2024 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[ali bin abi thalib]]></category><category><![CDATA[keadilan]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/ali-bin-abi-thalib-as-dan-keadilan-insani-by-jalaluddin-rakhmat</guid><description><![CDATA[Seorang penulis Kristiani, George Jordac, kebetulan seorang Romo tapi sekaligus juga sastrawan Lebanon, ia menulis buku yang ditulis dengan bahasa Arab yang sangat indah (menurut saya), belum pernah saya membaca buku riwayat tentang seorang tokoh muslim ditulis begitu indah oleh tokoh Nashrani seperti tulisan George Jordac, ia menulis riwayat Imam Ali bin Abi Thalib dengan judul "Shautul 'Adaalatil Insaaniyah", the Voice of Human Justice, suara keadilan.      Imam Ali kata George Jordac adalah t [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Seorang penulis Kristiani, George Jordac, kebetulan seorang Romo tapi sekaligus juga sastrawan Lebanon, ia menulis buku yang ditulis dengan bahasa Arab yang sangat indah (menurut saya), belum pernah saya membaca buku riwayat tentang seorang tokoh muslim ditulis begitu indah oleh tokoh Nashrani seperti tulisan George Jordac, ia menulis riwayat Imam Ali bin Abi Thalib dengan judul "<em>Shautul 'Adaalatil Insaaniyah</em>", the Voice of Human Justice, suara keadilan.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Imam Ali kata George Jordac adalah tokoh yang menegakkan keadilan, bahwa seluruh hidupnya dipersembahkan untuk menegakkan keadilan. Menurut George Jordac, Ali adalah tokoh suara keadilan insani, ia bukan hanya suara keadilan Islami tapi dia seorang keadilan insani, salah satu keadilan yang diperjuangkan Imam Ali adalah keadilan ekonomis, distribusi kekayaan yang merata untuk seluruh penduduk, ia berkata &ldquo;<em>maa ra&rsquo;aitu ni&rsquo;matan maufuurathan illaa bijaanibihaa haqqun mudhayya&rsquo;ah</em>&rdquo;, tidak pernah aku melihat orang memperoleh kenikmatan yang berlebih kecuali di sampingnya ada hak yang disia-siakan.<br /><br />Jadi, kalau saudara sekarang hidup dalam gelimpang kemewahan, di samping saudara ada ribuan orang yang hak-haknya ditindas, sebagai pengusaha kalau saudara memperolah keuntungan yang luar biasa, saudara harus membayangkan bahwa keuntungan itu diperoleh dengan keringat dan darah kaum buruh, bahwa kita membayar mereka dengan upah yang murah, bahwa kita mengejar-ngejar keuntungan dengan mematikan pengusaha-pengusaha kecil, aku tidak melihat kenikmatan yang berlimpah kecuali di sampingnya ada hak orang-orang yang disia-siakan kata Imam Ali.<br /><br />Terkenal juga dari perkataan Imam Ali yang dikutip juga oleh George Jordac dalam bukunya shautul adaalatil insaaniyah, dan ucapan itu berbunyi, &ldquo;Sekiranya dalam satu tempat ada orang yang lapar, dan ada orang yang telanjang, maka yang berdosa adalah orang-orang yang kaya di antara mereka." Dan Imam Ali menganjurkan agar orang miskin itu menuntut haknya dari orang-orang kaya hatta dengan cara paksa sekali pun.<br /><br />Jadi, Imam Ali yang kita bicarakan adalah salah seorang tokoh di antara sahabat Nabi yang mulia dengan misi hidupnya ialah menegakkan keadilan, baik keadilan politik maupun keadilan ekonomi. Kelak para pengikutnya menjadikan keadilan ini sebagai rukun agamanya. []<br />&#8203;<br />(Ditranskrip oleh A. Safri Bachtiar dari https://www.youtube.com/c/IslamdanDemokrasi)<br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Agresi Israel dan Kehancuran dirinya seperti yang diramalkan Einstein [by Nano Warno]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/agresi-israel-dan-kehancuran-dirinya-seperti-yang-diramalkan-einstein-by-nano-warno]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/agresi-israel-dan-kehancuran-dirinya-seperti-yang-diramalkan-einstein-by-nano-warno#comments]]></comments><pubDate>Fri, 22 Mar 2024 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[nano warno]]></category><category><![CDATA[Palestina]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/agresi-israel-dan-kehancuran-dirinya-seperti-yang-diramalkan-einstein-by-nano-warno</guid><description><![CDATA[Agresi Israel atas Palestina berakar pada sejarah yang kompleks dan penuh dengan ketidaksetaraan, klaim atas tanah, dan identitas agama.&nbsp;      Sejak 75 tahun lalu , Einstein seorang jenius meramalkan kejatuhan Israel.[1] Dalam sejarah kontemporer, konflik di Timur Tengah seringkali dipandang sebagai titik panas global yang mampu memicu ketegangan politik, sosial, dan agama yang kompleks. Salah satu konflik paling membingungkan dan berlarut-larut adalah agresi Israel atas Palestina. Namun, l [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><em><font color="#508d24">Agresi Israel atas Palestina berakar pada sejarah yang kompleks dan penuh dengan ketidaksetaraan, klaim atas tanah, dan identitas agama.&nbsp;</font></em></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Sejak 75 tahun lalu , Einstein seorang jenius meramalkan kejatuhan Israel.<a href="#_ftn1">[1]</a> Dalam sejarah kontemporer, konflik di Timur Tengah seringkali dipandang sebagai titik panas global yang mampu memicu ketegangan politik, sosial, dan agama yang kompleks. Salah satu konflik paling membingungkan dan berlarut-larut adalah agresi Israel atas Palestina. Namun, lebih dari sekadar konflik teritorial, ini memiliki implikasi yang jauh lebih dalam, termasuk ancaman terhadap keberlangsungan peradaban manusia itu sendiri.<br /><br />Agresi Israel atas Palestina berakar pada sejarah yang kompleks dan penuh dengan ketidaksetaraan, klaim atas tanah, dan identitas agama. Israel didirikan pada tahun 1948 di wilayah yang diduduki sebagian besar oleh orang Arab Palestina. Pendirian Israel diikuti oleh perang Arab-Israel pertama yang melibatkan negara tetangga Arab dan pasukan Palestina. Sejak itu, konflik berlanjut dengan periode perang dan ketegangan yang terus-menerus.<br /><br />Salah satu aspek paling menyedihkan dari agresi ini adalah jumlah besar korban sipil. Warga Sipil palestina sering menjadi korban tak terelakkan dalam serangkaian serangan udara, serangan roket, dan kekerasan lainnya. Ini tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga menciptakan trauma psikologis yang mendalam pada generasi muda, membentuk pola kebencian dan dendam yang berbahaya.<br /><br />Konflik terus menghambat upaya pembangunan di kawasan tersebut. Sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan ekonomi, pendidikan, dan perawatan kesehatan sering kali terpaksa digunakan untuk tujuan militer. Akibatnya, kemiskinan dan ketidaksetaraan semakin meningkat, menciptakan lingkungan yang subur bagi radikalisasi dan ketegangan sosial.<br /><br />Agresi Israel atas Palestina juga telah memecah belah masyarakat, baik di dalam negeri maupun di antara komunitas internasional. Keterlibatan aktor luar, baik itu negara atau kelompok kepentingan, telah memperkeruh situasi, menghalangi upaya perdamaian yang berkelanjutan dan merusak jaringan diplomatik yang mungkin memediasi konflik.<br /><br />Perang bersenjata juga memiliki dampak serius pada lingkungan alam. Penggunaan senjata kimia dan bahan peledak yang merusak lingkungan, serta kerusakan infrastruktur vital seperti instalasi air dan sanitasi, telah menciptakan krisis kemanusiaan tambahan dengan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kehidupan manusia.<br /><br />Agresi Israel atas Palestina bukan hanya masalah lokal, tetapi juga merupakan tantangan global yang mempengaruhi stabilitas politik dan keamanan di seluruh dunia. Ancaman terhadap peradaban manusia yang dihadapi dari konflik ini memerlukan tanggapan kolektif yang kuat dan komitmen untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan dan adil. Hanya dengan demikian kita dapat memastikan bahwa masa depan wilayah tersebut, dan dunia secara keseluruhan, tidak diwarnai oleh kehancuran dan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya.<br /><br />Eisntein&nbsp; meramalkan kehancuran Israel ketika dia diminta mengumpulkan dana untuk organisasi teroris.<br /><br />&nbsp;Sepuluh tahun sebelum negara Zionis mendeklarasikan "kemerdekaan" atas tanah yang dicuri dari Palestina pada tahun 1948, Einstein menggambarkan usulan pembentukan negara tersebut sebagai "bertentangan dengan esensi Yudaisme.<br /><br />Sebagai seorang Yahudi, dia telah meninggalkan Jerman pada masa pemerintahan Hitler dan tidak perlu belajar tentang&nbsp; fasisme.<br /><br />&nbsp; Einstein menemukan kelemahan dan kekurangannya di Komisi Penyelidikan Masalah Palestina Anglo-Amerika pada tahun 1946, dengan dukungan dari sarjana Yahudi terkemuka lainnya.<br /><br />&nbsp;Dia tidak mengerti mengapa Israel dibutuhkan.&nbsp;&nbsp;&ldquo;Saya pikir ini adalah hal yang buruk,&rdquo; katanya kepada panitia.<br /><br />&nbsp;Dua tahun kemudian, ia dan beberapa rekan Yahudinya menulis surat kepada New York Times yang mengecam Partai Kawanan (Kebebasan) pimpinan Menachem Begin, dan mengatakan bahwa organisasi, metode, filosofi politik, dan daya tarik sosialnya mirip dengan Nazi dari&nbsp;partai fasis.<br /><br />&nbsp;Einstein menulis sebuah surat pendek (50 kata atau kurang) darinya&nbsp; yang menyatakan keprihatinannya terhadap "bencana terakhir" yang akan dialami Palestina di tangan organisasi teroris Zionis.<br /><br />&nbsp;Hal ini ditujukan kepada Shepard Rifkin, direktur eksekutif Fighters American Friends&nbsp; for Israel Freedom&nbsp; yang berbasis di New York.<br /><br />&nbsp;Mereka mempromosikan ideologi anti-Inggris dari geng teroris 'Stern' dan mengumpulkan dana di AS untuk membeli senjata dan mengusir Inggris dari Palestina.<br /><br />&nbsp;Rifkin terdorong untuk meminta pendanaan kepada Einstein, namun setelah pembantaian Deir Yassin, fisikawan terkenal dunia itu menulis kepadanya:<br /><br />&ldquo;Tuan yang terhormat, Akhir yang Sebenarnya Inilah yang kami lakukan ketika bencana menimpa kami di Palestina.<br /><br />&nbsp;Yang pertama mengambil tanggung jawab dan berpartisipasi adalah Inggris, dan yang kedua adalah organisasi teroris yang didirikan oleh negara kita.<br />&#8203;<br />&nbsp;Saya tidak ingin melihat siapa pun dikaitkan dengan orang-orang yang menyesatkan dan kriminal ini.&rdquo; &nbsp;Salam Albert Einstein. ***<br /><br /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat <a href="https://www.middleeastmonitor.com/20231222-einstein-was-a-genius-75-years-ago-he-predicted-israels-fall/">https://www.middleeastmonitor.com/20231222-einstein-was-a-genius-75-years-ago-he-predicted-israels-fall/</a><br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Peran Iran dalam Membela Palestina  [by Nano Warno, Ph.D]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/peran-iran-dalam-membela-palestina-by-nano-warno-phd]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/peran-iran-dalam-membela-palestina-by-nano-warno-phd#comments]]></comments><pubDate>Fri, 22 Mar 2024 12:43:24 GMT</pubDate><category><![CDATA[nano warno]]></category><category><![CDATA[Palestina]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/peran-iran-dalam-membela-palestina-by-nano-warno-phd</guid><description><![CDATA[Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Nasser Kanaani mengatakan"Barbarisme dan kebrutalan rezim Zionis di Jalur Gaza terus berlanjut di depan mata dunia, dengan badan-badan internasional tetap pasif, dunia berbicara tetapi belum mengambil tindakan."      &#8203;Dia menambahkan: &ldquo;Sejak dimulainya perang di Gaza, 3.1923 warga Palestina telah terbunuh dan 74.096 orang terluka, dengan lebih dari 72% korbannya adalah wanita dan anak-anak. Salah satu perkembangan yang menyedihkan adalah pengepung [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Nasser Kanaani mengatakan</span><br /><span style="color:rgb(98, 98, 98)">"Barbarisme dan kebrutalan rezim Zionis di Jalur Gaza terus berlanjut di depan mata dunia, dengan badan-badan internasional tetap pasif, dunia berbicara tetapi belum mengambil tindakan."</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">&#8203;<br />Dia menambahkan: &ldquo;Sejak dimulainya perang di Gaza, 3.1923 warga Palestina telah terbunuh dan 74.096 orang terluka, dengan lebih dari 72% korbannya adalah wanita dan anak-anak. Salah satu perkembangan yang menyedihkan adalah pengepungan Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza oleh orang-orang Palestina. tentara pendudukan Zionis selama empat hari berturut-turut. Pagi ini, tentara dari rezim ini meledakkan dan menghancurkan sebuah klinik khusus di Rumah Sakit Al-Shifa."<br /><br />Kanaani mengungkapkan rasa frustrasinya: "Kata-kata tidak dapat sepenuhnya mengungkapkan kebrutalan yang tidak masuk akal ini di hadapan komunitas global."<br />&ldquo;Para pendukung dan mereka yang tetap diam dalam menghadapi kebrutalan seperti ini seharusnya merasa malu,&rdquo; lanjutnya, seraya menambahkan: &ldquo;Komunitas internasional harus bertindak cepat untuk membebaskan PBB dan Dewan Keamanan dari penyanderaan Amerika Serikat dan rezim Zionis. ."<br /><br />Peran Iran dalam konflik Israel-Palestina telah menjadi subjek perdebatan yang intens. Iran secara konsisten menyatakan dukungan kuatnya terhadap perjuangan Palestina dan mengecam tindakan agresi Israel terhadap warga Palestina.<br /><br />Iran secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan hak-hak mereka yang sah, termasuk kemerdekaan dan kembali ke tanah air mereka. Negara ini secara rutin mengecam tindakan represif Israel terhadap warga Palestina, baik di Tepi Barat, Gaza, maupun di wilayah pendudukan lainnya.<br /><br />Imam Khomeini menggambarkan Hari Quds Internasional sebagai momentum perlawanan kaum tertindas (al-Musta'afin) melawan penindas (Al-Mustaqbarin).<br /><br />&nbsp;Dalam pidato bersejarahnya, Imam Khomeini mengatakan, ``Hari Quds Internasional harus menjadi hari yang memberikan bimbingan kepada masyarakat tertindas agar mereka dapat menegaskan&nbsp; eksistensinya di hadapan para penindasnya.<br /><br />Mohamed Boljerdi, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia,&nbsp; mengatakan negaranya akan terus memberikan dukungan politiknya kepada Palestina&nbsp; dan siap memberikan segala bantuan untuk menyelesaikan konflik tersebut.<br /><br />Tujuan dari dukungan politik ini adalah untuk memberikan informasi kepada berbagai organisasi internasional, kelompok masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan tentang apa yang sebenarnya&nbsp; terjadi di Palestina.<br /><br />&nbsp;Iran memiliki hubungan yang kuat dengan kelompok-kelompok perlawanan Palestina, seperti Hamas di Jalur Gaza dan Jihad Islam di Tepi Barat. Hubungan ini memungkinkan Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut dan memainkan peran penting. &nbsp;<br /><br />Peran Iran dalam konflik Israel-Palestina juga harus dipahami dalam konteks pengaruh regionalnya di Timur Tengah. Iran sering kali dianggap sebagai lawan regional Israel dan negara-negara Teluk Arab yang mendukungnya. ***<br />&#8203;<br /><strong>Nano Warno, Ph.D adalah Dosen STAI Sadra Jakarta</strong><br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Ustadz Husain Ansariyan: Dai Sejuta Umat dari Isfahan [by Nano Warno, Ph.D]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/ustadz-husain-ansariyan-dai-sejuta-umat-dari-isfahan-iran]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/ustadz-husain-ansariyan-dai-sejuta-umat-dari-isfahan-iran#comments]]></comments><pubDate>Sun, 12 Nov 2023 12:31:37 GMT</pubDate><category><![CDATA[Ilmu]]></category><category><![CDATA[ulama]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/ustadz-husain-ansariyan-dai-sejuta-umat-dari-isfahan-iran</guid><description><![CDATA[Saya beruntung bertemu tiga sampai empat kali dengan ulama Rabbani ini. Dalam usia 73 tahun, Husain Ansariyan&nbsp;masih tampak segar bugar, bicaranya masih nyaring tegas lembut dan sistematis. Tidak hanya usianya yang panjang tapi juga sangat produktif bahkan di atas rata-rata produktif. Ia seorang mubaligh yang telah berceramah selama puluhan tahun dalam berbagai tema. Ia telah menulis sekitar&nbsp; 200&nbsp; buku, menulis manuskrip&nbsp; 300 ribu lembar&nbsp; yang rapih bersih dan indah tanpa [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Saya beruntung bertemu tiga sampai empat kali dengan ulama Rabbani ini. Dalam usia 73 tahun, Husain Ansariyan</span><span style="color:rgb(98, 98, 98)">&nbsp;masih tampak segar bugar, bicaranya masih nyaring tegas lembut dan sistematis. Tidak hanya usianya yang panjang tapi juga sangat produktif bahkan di atas rata-rata produktif. Ia seorang mubaligh yang telah berceramah selama puluhan tahun dalam berbagai tema. Ia telah menulis sekitar&nbsp; 200&nbsp; buku, menulis manuskrip&nbsp; 300 ribu lembar&nbsp; yang rapih bersih dan indah tanpa kesalahan.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Seorang penceramah aktif dalam negeri (Iran) dan wilayah-wilayah regional internasional. Ceramah yang didokumentasikan hampir&nbsp; 10.000 kali ceramah dengan materi yang berbeda-beda tidak diulang-ulang dan banyak kegiatan-kegiatan raksasa lainnya yang mungkin itu hanya bisa dilakukan oleh puluhan orang namun&nbsp; beliau melakukan semuanya sendirian. Selain itu juga beliau membuka majelis-majelis doa, majelis majelis taklim yang dihadiri oleh ribuan jamaah.<br /><br />Dari pesantren di Teheran ia belajar sastra arab, ilmu sharf dan nahwu. Kemudian melanjutkan ke pesantren di Qum hingga sampai ke jenjang tingkat tinggi fiqih dan ushul.&nbsp;<br /><br />Ceramah-ceramahnya, mungkin bagi yang baru mendengar atau bagi generasi-generasi gen z terasa monoton, lambat dan membosankan tanpa ilustrasi-ilustrasi yang menarik namun bagi orang yang benar-benar mencari ilmu mencari makrifat&nbsp; yang keluar dari lubuk hati seorang alim yang menurut sehat Hakim ketua ICC di Jakarta telah mencapai makam 'wasil' bagaikan siraman oase yang menyegarkan.&nbsp;<br /><br />Ceramah ustadz Husain Ansariyan dari hati yang menembus ke hati. Lahir dari bashirah yang dapat menembus lapisan batin audience. Kata Rumi&nbsp; sehati lebih manis dari sebahasa.<br /><br />Kalau saja lama beliau tinggal di Indonesia maka beliau akan dijadikan Mursyid bagi kaum muslimin di tengah-tengah kelangkaan para Mursyid&nbsp; adalah makhluk langka di negeri kita ini.<br /><br />Ia juga seorang ulama Kosmopolitan yang membuka dirinya lewat media sosial seperti Facebook, YouTube, Instagram, telegram dan WhatsApp. Ia lebih memilih jalan pencerahan lewat akhlak dan Irfan bukan jalan lewat hukum hukum Tuhan. Sebuah hadis mengatakan fakih yang sejati adalah yang berusaha tidak membuat manusia putus asa.<br /><br />Walaupun hanya beberapa hari di Indonesia tapi saya yakin ia telah menorehkan kesan mendalam di hati generasi muda tentang kekuatan seorang ilmuwan yang membaktikan dirinya dalam bidang ke ilmuan (<em>field of knowledge</em>) dan penyebaran ilmu (diseminasi). Seorang ulama tua yang tidak pernah membiarkan dikuasai kelemahan dan kerentaan tubuhnya.&nbsp; ***&nbsp;<br /><br /><em><strong>Nano Warno, Ph.D</strong>., adalah Dosen STAI Sadra Jakarta</em><br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Meluaskan Klaim Kebenaran [by Nano Warno, Ph.D]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/meluaskan-klaim-kebenaran-by-nano-warno-phd]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/meluaskan-klaim-kebenaran-by-nano-warno-phd#comments]]></comments><pubDate>Wed, 18 Oct 2023 02:01:46 GMT</pubDate><category><![CDATA[agama]]></category><category><![CDATA[spiritual]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/meluaskan-klaim-kebenaran-by-nano-warno-phd</guid><description><![CDATA[&#8203;Agama memang bisa dilihat dari berbagai sisi dari sisi akademis agama adalah teks praktik-praktik keagamaan pandangan para tokoh-tokoh agama pengalaman spiritual individu dan komunal yang semuanya harus diletakkan dalam klasifikasi yang sistematis tanpa terlibat secara emosional atau keyakinan di dalamnya. Agama juga bisa merupakan sebuah pengalaman pribadi antara subjek dengan Tuhan dengan manifestasi Tuhan dengan perintah-perintah Tuhan ketaatannya dan ketidaktaatannya.      Agama meman [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph">&#8203;<span style="color:rgb(98, 98, 98)">Agama memang bisa dilihat dari berbagai sisi dari sisi akademis agama adalah teks praktik-praktik keagamaan pandangan para tokoh-tokoh agama pengalaman spiritual individu dan komunal yang semuanya harus diletakkan dalam klasifikasi yang sistematis tanpa terlibat secara emosional atau keyakinan di dalamnya. Agama juga bisa merupakan sebuah pengalaman pribadi antara subjek dengan Tuhan dengan manifestasi Tuhan dengan perintah-perintah Tuhan ketaatannya dan ketidaktaatannya.</span><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Agama memang bisa dilihat dari berbagai sisi dari sisi akademis agama adalah teks praktik-praktik keagamaan pandangan para tokoh-tokoh agama pengalaman spiritual individu dan komunal yang semuanya harus diletakkan dalam klasifikasi yang sistematis tanpa terlibat secara emosional atau keyakinan di dalamnya. Agama juga bisa merupakan sebuah pengalaman pribadi antara subjek dengan Tuhan dengan manifestasi Tuhan dengan perintah-perintah Tuhan ketaatannya dan ketidaktaatannya.<br /><br />Agama juga bisa dilihat sebagai lembaga (institusional) yang menghadirkan berbagai ritual organisasi keagamaan, hierarki legalitas yang mendapatkan kepercayaan dari umat dan dari Tuhan.<br /><br /><strong>Teori Kebenaran Agama&nbsp;</strong><br />Teori kebenaran adalah pembahasan epistemologis dalam ranah keilmuan. Teori kebenaran agama jika dipahami dalam konteks agama adalah upaya untuk melihat agama secara objektif dengan parameter-parameter tertentu.&nbsp;<br /><br />Isu keagamaan atau juga isu mazhab sekarang banyak melemparkan isu tentang klaim kebenaran. Setiap mazhab selalu merasa harus mengklaim kebenaran. Yaitu&nbsp; mendaku&nbsp; mazhab yang paling benar sebagai mazhab yang merepresentasikan Islam itu sendiri. Dalam sebagian narasi klaim kebenaran itu lebih khusus lagi yaitu sebagai yang merepresentasikan Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.&nbsp;<br /><br />Menurut doktor Ismail Fajri Alatas yang menulis tentang tema otoritas keagaamaan membagi tiga sumber otoritas. Ada yang meyakini bahwa ulama yang benar adalah yang memiliki hubungan gen dengan Nabi Muhammad SAW atau dengan nasab. Ada juga pendapat yang mengatakan relasi itu bukan dengan gen bukan dengan nasab tapi dengan sanad yaitu hadis.<br /><br />Ketiga ini termasuk minoritas yang menganggap bahwa relasi dengan Nabi Muhammad SAW itu lewat penyingkapan lewat. Dalam tarekat Naqsyabandiyah misalnya mereka meyakini bahwa minum kopi itu sunnah karena mereka melihat sendiri dalam mimpinya dalam pengalaman spiritual nabi itu meminum kopi.<br /><br />Dan yang keempat, ini menurut saya, yaitu menggabungkan antara nasab dengan keilmuan. Jadi, mereka yang punya otoritas adalah yang punya hubungan nasab dengan Rasulullah, yang lebih khusus lagi adalah keluarga Rasulullah Saw&nbsp; yang lebih khusus lagi keluarga Rasulullah Saw yang disucikan dan memiliki ilmu-ilmu yang mendalam ilmu eksoteris dan eksoteris yang bertugas membimbing umat menjaga agama Islam dan mengantarkan kejayaan Islam sehingga dikenal dan&nbsp; dinikmati dan menjadi sumber keberkahan bagi seluruh umat dunia.<br /><br />Teori kebenaran dalam agama tidak cocok dengan paradigma hitam putih yang membelah menjadi kafir - mukmin, Sunnah - bid' ah, benar - sesat. Rasanya tidak sesuai dengan semangat agama dan semangat para wali-wali atau imam-imam atau ulama Rabbani yang memperkenalkan Islam sebagai agama yang juga mewarnai dan diwarnai oleh budaya lokal dan mengapresiasi epistemologi rasional epistemologi intuitif epistemologi strukturalis dan epistemologi sosial.&nbsp;<br /><br />Teori kebenaran agama tawaran dari saya adalah tingkatan kesempurnaan dalam ilmu dan praktik. Mazhab yang paling sempurna adalah mazhab yang holistik, komprehensif, yang loyal terhadap semua fakultas lahir dan batin manusia. Dan mazhab yang tidak sempurna adalah mazhab yang cenderung reduksionis yang menganggap kebenaran hanya lewat metodologi tertentu saja.&nbsp;<br /><br />Mazhab yang paling sempurna sekali tentu yang menggabungkan teori ilmu yang komprehensif tadi, dengan amal yang komprehensif juga yaitu amal individual, amal terhadap keluarga, amal kalbu, amal spiritual, amal komunitas di bawah bimbingan guru dan amal sosial yaitu menyeimbangkan praktik-praktik ritual dan penghidmatan sosial.<br /><br />Diskusi klaim kebenaran menurut saya tidak kreatif dan tidak efektif kecuali di kalangan para ulama dan ilmuwan akademisi.&nbsp;<br /><br />Di kalangan awam atau yang merasa menjadi ilmuwan (wanna to be scholars) isu klaim kebenaran bisa memicu polarisasi tajam dan menimbulkan perpecahan.&nbsp;<br /><br />Dalam Al-Quran sendiri bahwa kelak klaim kebenaran itu akan ditetapkan di tangan Tuhan di hari Kiamat. Jadi, mengapa harus dibesar-besarkan di dunia ini?&nbsp;<br /><br />Klaim kebenaran itu akan menutup mata akan kebenaran yang ada di pihak yang berbeda. Adapun teks teks hadis exclusive yang selaku tesebar di masing-masing mazhab selayaknya didudukan secara proporsional dibaca dengan perspektif Al-Quran dan diperhatikan konteksnya serta maslahatnya.<br /><br />Menurut Haidar Baqir bahwa kita harus jeli melihat kompleksitas suatu kebenaran dan kemungkinan manusia mengambil salah satu sikap terhadapnya dan mengandaikan keterbatasan manusia,&nbsp; juga mengandaikan keterbukaan terhadap variasi kebenaran.&nbsp; Wallahu a'lam. ***&nbsp;<br /><br />Ustadz <strong>Nano Warno, Ph.D.,&nbsp;</strong><em>adalah Dosen STAI Sadra Jakarta</em></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Noktah Hitam dalam Kenyamanan [by Nano Warno, Ph.D]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/noktah-hitam-dalam-kenyamanan-by-nano-warno-phd]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/noktah-hitam-dalam-kenyamanan-by-nano-warno-phd#comments]]></comments><pubDate>Mon, 16 Oct 2023 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[fitrah]]></category><category><![CDATA[waktu]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/noktah-hitam-dalam-kenyamanan-by-nano-warno-phd</guid><description><![CDATA[Tiba-tiba terjadi penyimpangan dalam suluk yang mungkin dianggap kecil atau mungkin tidak disadari tapi itu sangat mengganggu bahkan bisa menghentikan,&nbsp; bisa merusak suluk itu.&nbsp;Setiap orang mungkin mengalami kekecewaan, mengalami pelambatan karena misalnya makan yang berlebihan. Apalagi makan yang memang juga tidak bagus buat tubuh dan telah menyia-nyiakan waktunya.      Iinnal mubazirin kanu ikhwana sayatin. Sesungguhnya orang yang suka menyia-nyiakan adalah teman setan. Mubadzirina m [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Tiba-tiba terjadi penyimpangan dalam suluk yang mungkin dianggap kecil atau mungkin tidak disadari tapi itu sangat mengganggu bahkan bisa menghentikan,&nbsp; bisa merusak suluk itu.&nbsp;</span><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Setiap orang mungkin mengalami kekecewaan, mengalami pelambatan karena misalnya makan yang berlebihan. Apalagi makan yang memang juga tidak bagus buat tubuh dan telah menyia-nyiakan waktunya.</span><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><em>Iinnal mubazirin kanu ikhwana sayatin</em>. Sesungguhnya orang yang suka menyia-nyiakan adalah teman setan. Mubadzirina menyia-nyiakan yaitu menghambur-hamburkan menggunakan waktu secara sia-sia, menggunakan uang, membelanjakan uang bukan untuk keperluan yang penting, menggunakan waktu bukan untuk tindakan yang penting,melakukan sesuatu yang tidak penting, yang sia-sia.<br /><br />Setiap orang akan menyadari apa saja yang sia-sia itu melalui kesadaran suci dirinya yang disebut dengan fitrah. Manusia dibekali pengetahuan yang sudah inheren di diri dalam dirinya untuk mendeteksi apakah ini perbuatan menyimpang atau tidak menyimpang.&nbsp;Jika memang disadari oleh sang subjek dan dia tidak segera memperbaikinya, menghentikannya malah dia meneruskannya ini salah satu noktah hitam.<br /><br />Yang kedua adalah israf atau berlebihan. Kullu wasyrobu walatusyrifu. Makan dan minumlah dan jangan berlebihan! Ini larangan berlebihan tidak hanya berlaku untuk makan minum saja, tapi juga untuk perbuatan yang lain apa saja yang berlebihan atau yang ekstrem itu tidak disukai oleh Tuhan. Contoh yang kasat mata adalah makan dan minum, dalam tindakan sehari-hari. Dalam mengelola kebutuhan dasar ini manusia dilatih untuk bisa mengendalikan diri, untuk bisa menahan diri, untuk bisa menghentikan jika itu memang dirasa berlebihan. Sedikit saja berlebihan maka dia akan terbiasa dengan&nbsp; berlebihan, dengan mengkonsumsi berlebihan, dengan menikmati kesenangan secara berlebihan.<br /><br />Dua hal yang mungkin dianggap ringan dianggap enteng yaitu berlebihan kemudian menyia-nyiakan itu cukup bisa meruntuhkan segala yang sudah segala&nbsp; suluk yang sudah dilakukan dalam waktu yang cukup lama dan dilakukan secara konsisten.<br /><br />Dua hal ini mungkin kita lakukan terutama di malam hari; ada waktu yang sangat panjang dan sepi hening yang selayaknya dimanfaatkan untuk mengulangi pelajaran, mengevaluasi pelajaran, menyelesaikan tugas-tugas pelajaran, berdiskusi,membaca mendengar dan menyimak pelajaran namun kita malah memanfaatkannya untuk aktivitas yang sia-sia (wasting of time)..<br /><br />Apa saja yang membuat seseorang terdorong tertarik untuk menyia-nyiakan waktunya dan berlebihan? Banyak hal yang membuat kita secara tidak sadar dan tidak bisa mengendalikan begitu saja melakukan dua hal ini.&nbsp;<br /><br />Biasanya dua hal ini dilakukan yaitu berlebihan atau israf dan penyia-nyian waktu atau tabzir ketika kita memiliki waktu luang dan ketika kita sehat.&nbsp;<br /><br />Waktu luang yaitu waktu bebas, waktu libur, weekend hari Sabtu dan Minggu itu menjadi hari yang sesungguhnya sebagai medan pertempuran (field of battle) karena setan leluasa untuk melengahkan kita. Waktu libur, waktu luang, waktu istirahat membuat kita merasa tidak bersalah untuk menyia-nyiakan waktu. Padahal waktu libur waktu siang waktu istirahat itu adalah waktu untuk pemulihan, waktu untuk mencharge lagi semangat, waktu untuk meneguhkan mimpi-mimpi kita, untuk mengingatkan tujuan kita bahwa kita punya target target jarak dekat yaitu 4 tahun 5 tahun menyelesaikan masa-masa penguasaan ilmu-ilmu dasar Islam (Islami basic study), jarak menengah dan jarak jauh.&nbsp;<br /><br />Suatu hari Ustadz Arifin Ilham datang ke perumahan kita dan disambut dengan meriah oleh lurah dan RW, RT juga emak emak. Ia bercerita tentang kebiasaan pagi hari setelah tahajud untuk membersihkan WC WC di majlisnya. Ia juga pernah mengatakan bahwa waktu istirahat&nbsp; adalah kematian kita<br /><br />Ini siklus kehidupan. Di fase awal manusia bekerja keras mencukupi kehidupannya. Di saat itu ia tidak punya banyak waktu, sedikit istirahatnya. Namun setelah&nbsp; berkecukupan ia menjadi punya waktu luang,&nbsp; punya waktu libur, punya waktu istirahat tapi juga rentan dengan penyia-penyiaan dan berlebihan.&nbsp;<br /><br />Di fase awal fase bekerja keras fase belajar keras karena di fase itu ia berada di zona yang tidak nyaman. Namun ketika ia sudah melewati melewati fase-fase itu dan mencapai zona nyaman seharusnya ia&nbsp; mencari zona yang tidak nyaman lagi. Karena zona nyaman itu&nbsp; seperti narkoba (drug). Seorang psikolog mengatakan, the comport zone is the most dangerous things. *** <em>(<strong>Nano Warno, Ph.D</strong>., adalah Dosen STAI Sadra Jakarta)</em></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Qanaah Wajah (all you need is less)]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/qanaah-wajah-all-you-need-is-less]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/qanaah-wajah-all-you-need-is-less#comments]]></comments><pubDate>Sat, 14 Oct 2023 11:54:16 GMT</pubDate><category><![CDATA[hadiah]]></category><category><![CDATA[manusia]]></category><category><![CDATA[qanaah]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/qanaah-wajah-all-you-need-is-less</guid><description><![CDATA[Manusia memiliki kebutuhan yang bertingkat-tingkat. Manusia membutuhkan materi dalam rangka kemandirian dirinya, tidak bergantung kepada yang lain sehingga ia dan keluarganya tidak meminta minta. Tidak mengharapkan belas kasihan kepada orang lain. Maka manusia mencari harta, mengumpulkan uang dalam rangka menjaga harga dirinya dan mendapatkan kebebasan dalam hidupnya tidak di bawah tekanan orang lain.&nbsp;&#8203;      Manusia membutuhkan makan, minum, sex, istirahat, tidur untuk menyeimbangkan  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Manusia memiliki kebutuhan yang bertingkat-tingkat. Manusia membutuhkan materi dalam rangka kemandirian dirinya, tidak bergantung kepada yang lain sehingga ia dan keluarganya tidak meminta minta. Tidak mengharapkan belas kasihan kepada orang lain. Maka manusia mencari harta, mengumpulkan uang dalam rangka menjaga harga dirinya dan mendapatkan kebebasan dalam hidupnya tidak di bawah tekanan orang lain.&nbsp;</span>&#8203;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Manusia membutuhkan makan, minum, sex, istirahat, tidur untuk menyeimbangkan hidupnya dan memenuhi kebutuhan biologisnya dan keberlangsungan speciesnya. Manusia adalah hommo biologis, hommo sexualist.<br /><br />Kebutuhan manusia yang paling tinggi adalah kebutuhan dan ketergantungan kepada Tuhan. Manusia itu adalah kaum faqir bahkan kefakiran itu sendiri.<br /><br />Manusia itu sangat membutuhkan Tuhan, yaitu kebutuhan keberadaannya. Kebutuhan yang absolut dan tanpa itu manusia tidak ada. Manusia juga memiliki kebutuhan lain yaitu kalau dia tidak bergantung tidak bersandar kepada Tuhan maka dia akan kehilangan segala-galanya. Setiap saat setiap menit setiap hari setiap tahun dan sepanjang usianya manusia akan selalu membutuhkan Tuhan. Karena itu, manusia berdoa meminta setiap saat memohon dengan lisannya dengan kalbunya yang perasaannya dengan ilmunya dan segala macam yang ia miliki, memohon meminta kepada Allah untuk selalu menopang hidupnya.&nbsp;<br /><br />La haula wala quwwata illa billah tidak ada daya dan upaya kecuali dengan bantuan dan kekuatan Allah subhanahu wa ta'ala.<br /><br />Manusia meski memiliki ikhtiar yang diamanatkan Tuhan; hadiah yang luar biasa agar manusia merdeka dan bertanggung jawab atas amal-amalnya. Ikhtiyar adalah hadiah terbesar dan teragung yang dengan itu manusia dipercayai, diberi amanah diberi tugas.&nbsp;<br /><br />Sekalipun demikian, manusia masih membutuhkan bimbingan hidayah Taufik dari Allah subhanahu wa ta'ala.<br /><br />Ada pun untuk kebutuhan materi manusia harus menjadikan&nbsp; paradigma qana'ah yaitu all need is less.<br /><br />All you need is last ini adalah judul buku karya Vicky yang best seller buku itu kecil tipis tapi isinya sangat bagus.<br /><br />Anda ingin makan di pesta perkawinan anda tentu mengharapkan makanan yang&nbsp; enak dan mewah sebanding dengan kado Anda. Namun Anda juga siap&nbsp; mendapatkan mendapatkan yang tidak lengkap lauknya, bahkan Anda siap tidak mendapatkan makanan karena kehabisan.<br /><br />Di tempat kerja ada pembagian hadiah dan meskipun anda menginginkan hadiah yang terbaik dan terbagus tapi anda juga siap mendapatkan hadiah yang paling murah. Hadiah yang paling tidak berharga bahkan juga siap tidak mendapatkan hadiah.<br /><br />Ketika ibu bapak Anda meninggal anda menginginkan warisan yang adil warisan yang sempurna namun ada juga&nbsp; siap mendapatkan&nbsp; bagian yang paling kecil bahkan ada juga siap tidak mendapatkan apapun dari orang tua anda.<br />&nbsp;<br />Tetangga memiliki anak anak salih yang banyak. Anda juga menginginkannya dan selalu berdoa dengan sungguh-sungguh namun anda juga rela dikaruniai hanya satu anak bahkan siap tidak memiliki anak sepanjang hidup anda.<br /><br />Apa saja kesenangan yang kita inginkan, yang kita sukai namun yang paling sedikit yang sangat diharapkan, yang paling sederhana, paling kecil paling, paling minimal dan paling murah.&nbsp;<br /><br />Sementara amal, kebahagiaan ,kebersamaan, kesempurnaan maka harapkanlah yang paling maksimal, yang paling tinggi, yang paling istimewa.<br /><br />Kita menginginkan harta, uang, modal, kalau itu untuk kesenangan pribadi maka rendahkanlah ekspektasi anda. Sederhanakanlah keinginan anda, kurangilah keinginan anda.<br /><br />Namun kalau harta, uang, modal itu alat untuk kebahagiaan orang lain. Alat untuk kemandirian orang lain, prasarana untuk kemandirian bersama, maka harapkanlah yang paling banyak, paling maksimal, paling melimpah demi kebahagiaan demi keberkahan bagi masyarakat.<br /><br />Kalau anda ingin menghibur diri Anda dengan nonton film dengan main game atau dengan kesenangan kesenangan lain maka nikmatilah yang paling sederhana, yang paling mudah yang paling sedikit durasi waktunya.<br /><br />Efek etos ini dalam kehidupan keseharian, kita akan memiliki mental batin selalu siap dengan kekurangan. Selalu menerima keadaan yang tidak sesuai, selalu bisa beradaptasi.<br /><br />Dan pada akhirnya kita akan mematikan keingin subjektif, hasrat liar egois yang hanya berpusat pada kesenangan-kesenangan pribadi.<br /><br />Di sini kaum materialistis dan hedonis akan mengalami paradox. Kelompok ini-meskipun secara lahiriah adalah para pencari kesenangan, para penikmat dan para pemuas tapi justru mereka akan merasakan&nbsp; kurang puas (less satisfied) dan kemudian tidak puas dan akhirnya menderita.<br /><br />Kaum materialis dan hedonis selalu mencari kesenangan absolut di dunia padahal faktanya tidak ada kesenangan absolut. Kesenangan duniawi bercampur dengan derita. Untuk menikmati lezatnya makanan harus merasakan kelaparan yang sangat, untuk merasakan tegukan air yang segar harus merasakan rasa haus yang sangat pula. Untuk menikmati segala kenikmatan jasmaniyah harus didahului penderitaan penderitaan jasmaniyah pula.<br /><br />Kaum materialis dan hedonis tidak rela dengan kekurangan kesenangan, tidak suka dengan faktor faktor negatif dalam kesenangan seperti sebentar, ujungnya penderitaan, penyesalan, mahal, menyita waktu, melemahkan kejiwaan manusia.<br /><br />Kesenangan duniwiah itu menyakitkan jiwa. Apalagi yang durasinya lama, mahal dan menyita waktu. Jiwa itu membutuhkan nutrisi non materi seperti ilmu, hikmah (wisdom), kebersahajaan, tafakur (kontemplasi), aktifitas amal baik, doa, persahaban dengan Tuhan, altruisme, voluntir sosial, berbagi rejeki dan kebahagiaan, tantangan tantangan kehidupan dan lain-lain. ***&nbsp; (<strong>Ustadz Nano Warno, Ph.D., adalah dosen STAI Sadra Jakarta)</strong></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Jebakan-jebakan Amal Baik (the traps of good deeds) yang Dapat Menghentikan Amal Terbaik Anda [by Nano Warno, Ph.D]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/jebakan-jebakan-amal-baik-the-traps-of-good-deeds-yang-dapat-menghentikan-amal-terbaik-anda-by-nano-warno-phd]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/jebakan-jebakan-amal-baik-the-traps-of-good-deeds-yang-dapat-menghentikan-amal-terbaik-anda-by-nano-warno-phd#comments]]></comments><pubDate>Tue, 10 Oct 2023 14:14:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[amal]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/jebakan-jebakan-amal-baik-the-traps-of-good-deeds-yang-dapat-menghentikan-amal-terbaik-anda-by-nano-warno-phd</guid><description><![CDATA[Jebakan yang pertama yang membuat Anda tidak mau lagi beramal adalah pujian-pujian yang tidak tepat dari orang lain.&nbsp; Pujian-pujian itu sebetulnya tidak anda harapkan. Pujian-pujian itu bukan menyemangati Anda&nbsp; tapi bisa membuat anda menghentikan amalan. Misalnya pujian berupa penghargaan tapi anggap anda itu penghargaan yang sangat kecil sekali.      Yang kedua anda merasa ujub dengan amal-amal itu. Anda sering membandingkan&nbsp; &nbsp;amal anda dengan amal orang lain. Anda memandang [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Jebakan yang pertama yang membuat Anda tidak mau lagi beramal adalah pujian-pujian yang tidak tepat dari orang lain.&nbsp; Pujian-pujian itu sebetulnya tidak anda harapkan. Pujian-pujian itu bukan menyemangati Anda&nbsp; tapi bisa membuat anda menghentikan amalan. Misalnya pujian berupa penghargaan tapi anggap anda itu penghargaan yang sangat kecil sekali.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Yang kedua anda merasa ujub dengan amal-amal itu. Anda sering membandingkan&nbsp; &nbsp;amal anda dengan amal orang lain. Anda memandang amal Anda ini sangat spesial unik dan istimewa karena memerlukan banyak syarat dan banyak kondisi sementara orang-orang lain Anda pandang itu adalah amal yang standar.&nbsp; Ini bisa melahirkan sikap ujub dalam diri anda Anda memandang remeh amal orang lain, memandang rendah&nbsp; orang lain padahal anda&nbsp; tahu bahwa kualitas amal itu&nbsp; tidak hanya tergantung kepada amalnya saja tapi juga&nbsp; tergantung kepada niatnya atau mungkin orang lain itu menyembunyikan amal terbaiknya.<br /><br />Ketika amal Anda yang terbaik itu tidak dihargai malah dianggap sebagai amal yang harus disempurnakan dengan amal lain. Amal yang anda agung-agungkan itu kemudian dituntut&nbsp; misalnya untuk ditambah jam kerjanya,&nbsp; &nbsp;kuantitasnya, kualitasnya nah ini juga bisa membuat anda berhenti melakukan amal itu.<br /><br />Kemudian ketika anda melakukan amal itu.&nbsp; Anda terlalu berlebihan di awal awal. Anda mengerahkan segala tenaga waktu dan pikiran anda sehingga akhirnya anda merasa kecapean merasa kelebihan beban dan menghentikan amal itu. Padahal yang diperhitungkan dalam amal itu adalah kesabaran anda untuk terus melakukan walaupun dengan tindakan-tindakan yang sederhana. Jadi yang penting dalam amal itu adalah kontinuitas Istiqomah karena hal itulah yang bisa mengubah keadaan bukan amal-amal yang sporadis yang spontan yang berlebihan namun kemudian berhenti seketika.<br /><br />Anda melakukan amalan itu hanya berdasarkan pertimbangan emosional. Jadi anda tidak berusaha mengharmonisasikan antara tuntutan akal, tuntutan syariat,&nbsp; tuntutan keluarga. Anda tidak bisa menyeimbangkan prioritas amal itu karena ada hal yang tidak bisa anda penuhi padahal seharusnya dipenuhi sehingga&nbsp; amal itu akan mengurangi hak-hak yang lain dan hak hak amal yang lain.<br /><br />Dalam melakukan perbuatan yang baik itu anda hanya fokus pada amal itu dan&nbsp; mengabaikan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Seolah-olah anda benar-benar bertanggung jawab atas perbuatan yang baik itu padahal sebetulnya yang mendorong memotivasi adalah Allah subhanahu wa ta'ala.<br /><br />Anda menikmati amal itu, mencintai amal itu sehingga membuat anda ingin hidup di dunia dalam waktu yang lama .Amal itu telah memalingkan anda dari Tuhan,&nbsp; telah menyelewengkan anda dari Allah subhanahu wa ta'ala. Anda mencintai amal itu&nbsp; namun anda tidak mencintai dan tidak menghargai Tuhan yang mensyariatkan itu yang membuat Anda layak untuk menikmati momen-momen amal itu.<br /><br />Amal-amal yang anda lakukan hanya berdimensi spiritual saja (ta'abudi)&nbsp; dan tidak memberikan keberkahan sosial padahal dalam situasi masyarakat membutuhkan kreativitas anda membutuhkan dukungan sosial anda.<br /><br />Anda tidak bersungguh-sungguh dalam amal itu. Anda melakukan amal itu di sisa waktu anda, padahal amal&nbsp; itu adalah anugerah ilahi yang diberikan kepada orang-orang tertentu agar bisa memenuhinya dengan segala kesungguhan anda.<br /><br />Dalam melaksanakan amal itu Anda terlalu melibatkan berbagai hal yang sebetulnya&nbsp; tidak begitu penting bagi amal anda namun karena ada orangnya perspeksionis anda selalu menyiapkan persiapan-persiapan yang sangat baik sekali yang kemudian pada gilirannya anda tidak punya mood lagi untuk melakukan.<br /><br />Anda mencurahkan perasaan Anda kepada siapa saja&nbsp; ketika menemui berbagai kesulitan dalam amal itu. Amal itu memang melahirkan berbagai dinamika yang kompleks dan itu yang membuat Anda ingin berbicara banyak kepada setiap orang atau kepada orang yang memiliki pengaruh dengan harapan bisa ikut&nbsp; menikmati cerita itu. Padahal itu bisa mencederai keikhalasan anda.<br /><br />Setelah melakukan amal baik itu di tengah-tengah amal&nbsp; kemudian Anda diuji dengan ujian-ujian yang baik sehingga Anda merasa ini adalah anugerah. Inii adalah tanda baik dan kemudian Anda merasa membolehkan melakukan hal-hal yang sedikit bertentangan dengan kezuhudan sebagai perayaan atas keberhasilan.<br /><br />Selama dalam melakukan amal kebaikan itu tidak ada efeknya terhadap perilaku Anda, terhadap sikap Anda,&nbsp; qanaah Anda, tawakal Anda,&nbsp; zuhud anda. Sebagai misal Anda masih tetap suka makan banyak,&nbsp; suka minum banyak, masih suka&nbsp; menikmati kesenangan-kesenangan yang sebetulnya halal tapi berlebihan.<br /><br />Anda tidak istiqomah dalam menunaikan amal anda itu. Tidak berusaha belajar lagi mencari ilmu lagi agar mendapatkan malakah Istiqomah di dalam diri anda. Artinya anda tidak berusaha menyempurnakannya dengan ilmu ilmu keislaman.<br /><br />Amal-amal baik itu tidak diimbangi oleh transformasi jiwa anda. Amal Anda memang baik sempurna tapi jiwa anda tidak menyempurna,&nbsp; jiwa Anda semakin kotor, jiwa Anda semakin berubah menjadi jiwa binatang buas&nbsp; dan jiwa-jiwa kotor lainnya.<br /><br />Anda jahil dengan sifat-sifat diri Anda yang tidak Anda ketahui karena anda tidak mengenal diri Anda,&nbsp; di mana sifat-sifat itu akan menjebak anda, akan menggiring anda pada situasi yang lebih buruk misalnya bertambah kebencian, membesar ego anda.<br /><br />Amal-amal itu malah membesarkan anda bukan menghilangkan anda. Ego Anda semakin besar semakin berakumulasi dan bukan semakin menghilang. Artinya. Anda tambah sombong,&nbsp; takabur,&nbsp; sensitif,agresif, rakus,&nbsp; horni , semakin cinta dunia.<br /><br />Anda tidak berusaha mencari seorang pembimbing rohani atau mursyid walaupun dalam level yang sangat sederhana untuk membimbing anda baik dengan nasehat atau dengan bimbingan secara kontinuitas.<br /><br /><em>Tidak rela dan tidak bahagia dalam menjalankan amal itu.<br />Anda berputus asa ketika amal itu tidak memberikan manfaat duniawi.<br />Anda tidak meminta bantuan kepada Allah agar bisa mengamalkan amal itu.</em><br />&nbsp;<br />Wallahu 'Allam&nbsp;<br /><strong>Nano Warno, Ph.D </strong><em>adalah Dosen STAI Sadra Jakarta</em></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Basmalah: Tinjauan Sufistik [by KH Jalaluddin Rakhmat]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/basmalah-tinjauan-sufistik-by-kh-jalaluddin-rakhmat]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/basmalah-tinjauan-sufistik-by-kh-jalaluddin-rakhmat#comments]]></comments><pubDate>Wed, 04 Oct 2023 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[Hadis]]></category><category><![CDATA[Tasawuf]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/basmalah-tinjauan-sufistik-by-kh-jalaluddin-rakhmat</guid><description><![CDATA[RASULULLAH saw bersabda, &ldquo;Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus.&rdquo; Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya. Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi. Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu p [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><span style="color:rgb(98, 98, 98)">RASULULLAH saw bersabda, &ldquo;<em>Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus.&rdquo;</em> Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya. Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi. Menurut Syekh Jawad Amuli, begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Berkenaan dengan hadis di atas, Syekh Jawad Amuli membagi amal-amal tersebut ke dalam dua macam perbuatan baik. Pertama, amal yang baik dari segi perbuatan. Istilah ini disebut dengan hasan al-fi&rsquo;li. Yang termasuk kriteria hasan al-fi&rsquo;li misalnya adalah menolong orang lain, membantu orang yang sedang kesusahan, dan berdakwah. Semua perbuatan itu sudah termasuk perbuatan baik. Kedua, amal yang baik dari segi pelakunya atau disebut hasan al-f&acirc;&rsquo;il. Orang yang melakukan suatu perbuatan itu memang terhitung baik dan ia memulai pekerjaannya dengan niat yang ikhlas.<br /><br />Pada Perang Shiffin, tentara &lsquo;Amr bin Ash dan Mu&rsquo;awiyah mendapatkan kekalahan. Mereka meminta untuk berhukum. Tetapi orang Khawarij menolaknya seraya berkata, &ldquo;Tidak ada hukum kecuali hukum Allah.&rdquo; Ketika Imam Ali bermusyawarah, berunding untuk memelihara perdamaian, orang Khawarij marah dan berkata, &ldquo;Mengapa harus membuat pengadilan, karena semua hukum itu milik Allah.&rdquo; Imam Ali lalu berkata, &ldquo;Ucapan orang Khawarij bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah adalah ucapan yang benar, tetapi diucapkan dengan maksud yang buruk.&rdquo; Dalam pandangan Imam Ali, ucapan orang Khawarij itu adalah benar dari segi perbuatannya, tetapi tidak benar dari segi maksud orang yang mengucapkannnya. Pada saat itu Imam Ali as menggolongkan kelompok Mu&rsquo;awiyah dan Khawarij dengan perkataan yang indah, &ldquo;Orang-orang Khawarij lebih baik daripada orang Mu&rsquo;awiyah, karena orang Khawarij adalah orang yang mencari kebenaran tetapi tidak menemukannya. Lebih baik orang yang mencari kebenaran walaupun tidak menemukannya daripada orang yang mencari kebatilan dan keburukan seperti Mu&rsquo;awiyah.&rdquo;<br /><br />Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi&rsquo;li. Jika orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia menisbahkan f&acirc;&rsquo;il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi&rsquo;li sekaligus menjadi hasan al-f&acirc;&rsquo;il.<br /><br />Jadi, ada perbuatan yang fi&rsquo;li-nya baik tetapi f&acirc;&rsquo;il-nya tidak baik, karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan terputus atau batal.<br /><br />Suatu perbuatan harus hasan al-fi&rsquo;li dan hasan al-f&acirc;&rsquo;il; masuk dan keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal sehari-hari: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Isra 80)<br /><br />Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.<br /><br />Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.<br /><br />Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula.<br /><br />Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS. Al-Rahm&acirc;n 78) Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A&rsquo;la 1).<br /><br />Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda, &ldquo;Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku&rsquo; kamu.&rdquo; Dan ketika turun surat Al-A&rsquo;la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi, Rasulullah berkata, &ldquo;Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.&rdquo;<br /><br />Ada sebuah riwayat di kalangan &lsquo;irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafad kun yang diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu. (Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.<br /><br />Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar, ia berkata, &ldquo;Bismill&acirc;hi majreh&acirc; wa murs&acirc;h&acirc;&rdquo; (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya, tetapi kehendak Allah.<br /><br />Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya.&nbsp; Jadi, hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya sama dengan kata kun dari Maula-nya,&nbsp; Allah.<br /><br />Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita.<br /><br /><strong>Cerita Sufi</strong><br />Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku&rsquo; dan zikir. Junaid ditanya oleh para malaikat, &ldquo;Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu.&rdquo; Junaid menjawab, &ldquo;Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki.&rdquo; Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang ruku&rsquo;. Junaid diseru, &ldquo;Hai Junaid, bergabunglah bersama kami.&rdquo; Junaid menjawab, &ldquo;Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan kalian.&rdquo; Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, &ldquo;Aku tidak ingin bergabung denganmu.&rdquo; Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi, yang disebut Sidhratul Muntah&acirc;. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan, &ldquo;Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?&rdquo; Junaid berkata, &ldquo;Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi.&rdquo;<br /><br />Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah sebuah kebenaran.<br /><br />Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Rasulullah bahkan pernah bersabda, &ldquo;Di bawah naungan langit dan di atas permukaan bumi ini tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar.&rdquo; Mengapa Abu Dzar sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah sampai pada tingkat tawakal kepada Allah; ia menyerahkan seluruh kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam kitab Nur Al-Tsaqalain disebutkan: Sesungguhnya basmalah itu lebih dekat dengan nama Allah yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan putihnya. Basmalah adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat tertentu.&nbsp; <br /><br /><strong>Allah: Antara Kasih Sayang dan Murka</strong><br />Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat jal&acirc;liyyah dan jam&acirc;liyyah. Asma-asma yang disebut dalam Basmallah adalah Allah,Al-Rahm&acirc;n, dan Al-Rah&icirc;m. Menurut Al-Razi, asma Allah menunjukkan lafzh al-jal&acirc;lah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dengan kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan, ke-Mahabesaran, dan ke-Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut Al-Rahman dan Al-Rahim. Dan itulah sifat jam&acirc;liyyah (sifat kasih sayang). Allah hanya menggunakan satu nama untuk menggambarkan kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Tapi untuk menggambarkan kasih sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Al-Rahman dan Al-Rahim. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar, lebih banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya.<br /><br />Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang berat siksaan-Nya (Syad&icirc;d Al-&rsquo;Iq&acirc;b). Inilah yang menunjukkan sifat jal&acirc;liyyah. Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang; wajah yang selalu siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita; wajah yang setiap malam menunggu kita untuk datang berdialog dengan-Nya; wajah yang selalu melimpahi setiap makhluk dengan anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat bertambah kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jam&acirc;liyyah, yakni sifat-sifat keindahan Allah.<br /><br />Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jam&acirc;liyyah Allah lebih besar daripada sifat jal&acirc;liyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi diriwayatkan: Aku ingin murka melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Tetapi Aku melihat orang-orang tua yang ruku&rsquo; dan sujud, anak-anak yang menyusu pada ibunya, dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka berhentilah kemarahan-Ku. Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar daripada kemurkaan-Nya. Sehingga di dalam doa Kumayl, disebutkan Wahai Zat yang lebih cepat rida-Nya. Tuhan memang murka juga. Tetapi rida-Nya jauh lebih cepat.<br /><br />Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Bapak Alwi Shihab. Di universitasnya, di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang kafir yang akhlaknya sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya kepada ilmu dengan tidak memperhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih kafir. Lalu dalam pikiran beliau bergulat berbagai masalah: Bagaimana orang kafir bisa begitu baik akhlaknya dan mengabdi kepada Allah? Bagaimanakah (nasib) mereka di akhirat nanti? Yang menarik dari kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada besarnya kasih sayang Allah swt.<br /><br />Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada murka-Nya, maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya meliputi orang-orang Islam, tetapi juga orang-orang kafir. Ustad Alwi Shihab menduga bahwa orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan mendapat limpahan kasih sayang Allah swt juga.<br /><br />Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran, baik berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah percikan dari kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima dalam kehidupan ini, tetap berasal dari samudera kasih sayang Allah swt.<br /><br />Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi saw. Ia mengeluh karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya sering ditimpa penyakit. Ia berkata, &ldquo;Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan hartaku hilang.&rdquo; Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda dari kasih sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tak ada baiknya seseorang yang tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak pernah rugi. Karena, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan coba ia dengan berbagai ujian, Ujian adalah percikan kasih sayang Allah. Begitu juga halnya dengan azab Allah yang Ia berikan pada hari akhirat nanti, ia masih merupakan percikan dari rahm&acirc;n rah&icirc;m-Nya.<br />&#8203;<br />Mungkin kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada kita di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita menjadi orang yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatull&acirc;h. Orang yang memiliki kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah teruji berkali-kali. Seperti sebuah peribahasa di negeri Barat yang menyatakan: Badailah yang membuat kuat bangsa Viking. ***<br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Transmisi Kitab Sulaim [by Muhammad Babul Ulum]]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/transmisi-kitab-sulaim-by-muhammad-babul-ulum]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/buletin/transmisi-kitab-sulaim-by-muhammad-babul-ulum#comments]]></comments><pubDate>Sat, 14 Jan 2023 07:18:01 GMT</pubDate><category><![CDATA[Ahlulbait]]></category><category><![CDATA[Ali bin Abu Thalib]]></category><category><![CDATA[Dua Belas Imam]]></category><category><![CDATA[Hasan Bashri]]></category><category><![CDATA[Imam Ali Zainal Abidin]]></category><category><![CDATA[kitab sulaim]]></category><category><![CDATA[Saqifah]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/buletin/transmisi-kitab-sulaim-by-muhammad-babul-ulum</guid><description><![CDATA[Bagaimana Abban mengenal Sulaim?Ketika tiba di Irak Hajjaj mencari-cari Sulaim. Sulaim lari menghindar dan bertemu kami di Nobandjan. Ia tinggal serumah dengan kami. Sebelumnya aku tidak pernah melihat orang yang paling berwibawa, paling bersemangat, dan paling bersedih dari dirinya. Tidak juga aku pernah melihat orang yang paling membenci ketenaran dirinya sendiri darinya. Saat itu umurku 14 tahun. Aku telah hafal al-Quran. Aku selalu bertanya kepadanya. Ia bercerita kepadaku tentang pejuang Ba [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong style="color:rgb(98, 98, 98)">Bagaimana Abban mengenal Sulaim?</strong><br /><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Ketika tiba di Irak Hajjaj mencari-cari Sulaim. Sulaim lari menghindar dan bertemu kami di Nobandjan. Ia tinggal serumah dengan kami. Sebelumnya aku tidak pernah melihat orang yang paling berwibawa, paling bersemangat, dan paling bersedih dari dirinya. Tidak juga aku pernah melihat orang yang paling membenci ketenaran dirinya sendiri darinya. Saat itu umurku 14 tahun. Aku telah hafal al-Quran. Aku selalu bertanya kepadanya. Ia bercerita kepadaku tentang pejuang Badar.</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <span class='imgPusher' style='float:left;height:0px'></span><span style='display: table;width:auto;position:relative;float:left;max-width:100%;;clear:left;margin-top:0px;*margin-top:0px'><a><img src="https://www.altanwir.net/uploads/5/1/7/1/51714271/300px_orig.jpg" style="margin-top: 5px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; border-width:1px;padding:3px; max-width:100%" alt="Picture" class="galleryImageBorder wsite-image" /></a><span style="display: table-caption; caption-side: bottom; font-size: 90%; margin-top: -10px; margin-bottom: 10px; text-align: center;" class="wsite-caption"></span></span> <div class="paragraph" style="display:block;">Darinya aku banyak mendengar hadis yang berasal dari Umar bin Abi Salamah, putra Ummu Salamah isteri Rasulullah saw, dan juga yang berasal dari Mu'adz bin Jabal, Salman al-Farisi, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, Miqdad, Amar, Bara` bin Azib. Ia memintaku untuk menyembunyikannya.<br />&nbsp;<br /><strong>Sulaim membacakan kitabnya kepada Aban dan menyerahkannya kepadanya</strong><br />Tidak lama setelah itu, ajal menjemputnya. Sesaat sebelum meninggal ia memanggilku, tidak ada orang lain selain kami berdua. Ia mulai berkata: Wahai Aban, Aku sudah tinggal bersamamu, Aku tidak melihat darimu kecuali semua yang Aku suka. Aku mempunyai sebuah kitab yang aku dengar dari orang-orang yang terpercaya <em>(al-tsiq&acirc;t)</em>, Aku menulisnya dengan tanganku sendiri. Di dalamnya memuat hadis-hadis yang Aku tidak ingin orang awam mengetahuinya karena mereka pasti mengingkarinya. Sungguh, hadis-hadis itu aku ambil dari <em>ahlul haq </em>(orang yang selalu benar), <em>ahlul fiqh </em>(orang yang berpengetahuan luas),<em> ahlus shidq </em>(orang yang jujur), dan <em>ahlul birr </em>(orang yang selalu berbuat baik) dari Ali bin Abi Thalib, Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari dan Miqdad bin Aswad ra.<br />&nbsp;<br />Tidak ada satu pun hadis yang aku dengar dari salah satunya kecuali aku tanyakan kepada yang lain sehingga mereka semua menyepakatinya. Demikian seterusnya. Setiap hadis yang aku dengar selalu aku tanyakan kepada mereka. Dan ada juga hadis yang aku dengar dari orang-orang yang jujur selain mereka.<br />&nbsp;<br />Ketika sakit, pernah terbesit dalam diriku untuk membakarnya. Tapi aku akan merasa berdosa bila niat itu terlaksana dan akhirnya aku urungkan. Karena itu, bersumpahlah kepada Allah jangan engkau ceritakan kepada siapa pun selama Aku masih hidup. Dan setelah kematianku, jangan engkau sampaikan satu pun hadis darinya kecuali kepada orang yang engkau percaya seperti engkau mempercayai dirimu sendiri. Dan bila sesuatu terjadi padamu berikan kitab itu kepada pengikut Ali yang engkau percayai dan teguh dalam beragama.&nbsp;<br />&nbsp;<br />Aku memberinya garansi. Ia serahkan kitab itu padaku. Dan semuanya dibacakan kepadaku, sampai akhirnya ia meninggal dunia.<br />&nbsp;<br /><strong>Hasan Bashri membenarkan isi kitab Sulaim</strong><br />Aku terima kitab itu dan membacanya berulang-ulang. Pada mulanya, sulit bagiku mempercayainya. Karena isinya menandakan kebinasaan seluruh umat Nabi Muhammad saw mulai dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabiin kecuali Ali bin Abi Thalib, keluarganya, beserta pengikutnya.<br />&nbsp;<br />Orang yang aku temui setelah kedatanganku ke Bashrah, al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri. Saat itu ia bersembunyi dari kejaran al-Hajaj. Al-Hasan waktu itu termasuk Syiah Ali dan di antara pendukungnya yang setia. Ia sangat menyesal karena tidak ikut bergabung dengan Ali pada perang Jamal.<br />&nbsp;<br />Di pojok timur rumah Abu Khalifah al-Hajaj bin Abi 'Itab al-Dailami, aku menyingkir, hanya kami berdua. Kepadanya aku tunjukkan kitab <em>Sulaim</em>. Al-Hasan menangis, lalu berkata:<em> "Tidak ada hadis yang termuat kecuali semuanya benar. Aku telah mendengarnya dari pengikut Ali yang terpercaya, dan juga dari yang lain."</em><br />&nbsp;<br /><strong>Pengakuan Imam Ali Zainal Abidin</strong><br />Abban melanjutkan kisahya, "Pada tahun itu aku berangkat menunaikan Ibadah Haji. Aku masuk menemui Ali bin al-Husein as. Duduk bersamanya Abu al-Thufail Amir bin Watsilah, sahabat Rasulullah saw dan salah satu sahabat Ali yang paling setia. Di situ aku juga bertemu dengan Umar bin Abi Salamah, putra Ummu Salamah, isteri Rasulullah saw.<br />&nbsp;<br />Kepada mereka bertiga aku tunjukkan kitab ini. Selama tiga hari Ali bin Husein membacakannya untuk kami. Beliau berkata kepadaku, "Sulaim benar, semoga Allah merahmatinya. Ini semua hadis yang kami kenal." Abu Thufail dan Umar bin Abi Salamah berkata, &ldquo;Tidak ada hadis yang ditulisnya kecuali kami pernah mendengarnya dari Ali, Salman, Abu Dzar dan Miqdad.&rdquo;<br />&nbsp;<br />Kepada Abu al-Hasan Ali bin al-Husein as, aku berkata, "Aku jadikan diriku sebagai tebusanmu, sungguh sempit dadaku dengan sebagian yang tercantum di dalamnya karena itu berarti kebinasaan umat Muhammad mulai dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabiin selain kalian, Ahlulbait dan Syiah kalian.&rdquo;<br />&nbsp;<br />Beliau menjawab, "Wahai saudara Abdul Qais, tidakkah sampai kepadamu bahwa Rasulullah saw bersabda<em>, "Sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku dalam umatku seperti bahtera Nuh dalam kaumnya. Selamat orang yang menaikinya dan celaka orang yang berpaling darinya. Juga seperti pintu ampunan di dalam Bani Israel."</em><br />&nbsp;<br />Aku menjawab, "Ya, aku pernah mendengarnya." Ia bertanya lagi, "Siapa yang memperdengarkannya padamu." Aku menjawab, "Aku mendengarnya dari seratus fukaha lebih." "Dari siapa," beliau mendesakku. "Dari Hanasy bin al-Mu'tamir, ia mengaku mendengarnya dari Abu Dzar yang bergelantung di pintu Ka'bah sambil meneriakkan hadis itu yang ia dengar dari Rasulullah saw."<br />&nbsp;<br />Beliau bertanya lagi, "lalu siapa lagi?" Aku menjawab, "Dari Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri bahwa ia mendengarnya dari Abu Dzar, dari Miqdad bin al-Aswad al-Kindi, dan dari Ali bin Abi Thalib as."<br />&nbsp;<br />"Dari siapa lagi." Beliau terus mendesakku. "Dari Said bin Musayyab dan Alqamah bin Qais, dan dari Abi Dhabyan al-Janbi, Abdurrahman bin Abi Laila, mereka semua saat ini sedang berhaji. Mereka bersumpah pernah mendengarnya dari Abu Dzar."<br />&nbsp;<br />Abu Thufail dan Umar bin Abi Salamah berkata, "Dan kami, demi Allah, pernah mendengarnya dari Abu Dzar. Kami juga mendengarnya dari Ali bin Abi Thalib, Miqdad dan Salman." Kemudian Umar bin Abi Salamah menatapku dan berkata, "Demi Allah, aku telah mendengarnya dari seseorang yang lebih baik dari mereka semua, Rasulullah saw. Aku mendengarnya dengan kedua telingaku, dan hatiku benar-benar menyadarinya."<br />&nbsp;<br />Kemudian Imam Ali bin al-Husein menghampiriku dan berkata, "Bukankah satu hadis ini saja sudah membuat dadamu sesak dari semua hadis tersebut? Wahai saudara Qais, takutlah kepada Allah. Bila perkaranya jelas bagimu, terimalah. Bila tidak, diamlah, engkau pasti selamat dan serahkan pemahamannya kepada Allah swt. Engkau pasti lebih tenang dari siapa saja yang berada diantara langit dan bumi."<br />&nbsp;<br />Aban berkata, "Saat itu aku tanyakan semua yang harus aku ketahui dan yang boleh tidak aku ketahui. Beliau pun menjawab semuanya."<br />&nbsp;<br /><strong>Aban dan Abu Thufail </strong><br />Aban berkata, "Kemudian, setelah itu, aku menemui Abu Thufail di rumahnya. Ia bercerita kepadaku tentang <em>raj'ah</em> dari beberapa pejuang Badar, dari Salman, Abu Dzar, Miqdad, Ubay bin Ka'ab. Ia berkata kepadaku, "Semua yang aku dengar tadi aku laporkan kepada Ali bin Abi Thalib as di Kufah." Beliau menjawab, "Ini ilmu khusus, orang-orang boleh tidak mengetahuinya. Serahkan saja pemahamannya kepada Allah swt."<br />&nbsp;<br />Kemudian beliau membenarkanku atas semua yang aku dengar dari mereka. Beliaupun membacakan banyak ayat al-Qur`an dan menafsirkannya dengan sejelas-jelasnya. Sampai-sampai keyakinanku terhadap hari kiamat tidak sekuat keyakinanku terhadap <em>raj'ah</em>."<br />&nbsp;<br />Aku masih ingat. Diantara yang aku tanyakan, "Wahai Amirulmukminin, beritakan padaku tentang <em>haudh </em>Rasulullah saw. apakah di dunia atau di akhirat?" Beliau menjawab, "Di dunia."<br />&nbsp;<br />Aku bertanya, "Siapa yang menjaganya." &ldquo;Aku, dengan tanganku ini, para pendukungku aku perkenankan masuk. Para musuhku aku halau darinya," jawab Ali.<br />&nbsp;<br />Aku bertanya lagi, "Firman Allah (al-naml 82) apa maksud kata <em>ad-d&acirc;bbah</em>." Beliau menjawab, "Sedemikian pentingkah bagimu?"<br />&nbsp;<br />"Duhai Amirulmukminin, aku mohon, apa maksudnya. Sungguh, aku jadikan diriku sebagai tebusanmu," jawabku.<br />&nbsp;<br />"Ia adalah <em>d&acirc;bbah </em>yang memakan makanan, yang berjalan di pasar, dan menikahi wanita."<br />&nbsp;<br />Aku belum tahu maksudnya, "Siapakah dia," desakku lagi. "Ia adalah <em>Shidd&icirc;q </em>umat ini, ia <em>f&acirc;r&ucirc;q</em>nya, ia pemimpinnya, ia dzul Qarnainnya."<br />&nbsp;<br />Karena belum juga paham, aku bertanya lagi, "Duhai Amirulmukminin, siapakah dia?&rdquo; Kemudian dijawab, &ldquo;Ia, yang tentangnya Allah berfirman, <em>&hellip;dan diikuti oleh seorang saksi</em> (QS. Al-Hud[11]: 17), <em>Dan yang padanya ilmu kitab </em>(QS. Al-Ra'd[13]: 43),&nbsp; <em>Dan yang membawa kebenaran </em>(QS. Al-Zumar[39]: 33), <em>dan yang membenarkannya, </em>Aku. Semua orang telah ingkar kecuali Aku dan beliau."<br />&nbsp;<br />Aku bertanya lagi, "Wahai Amirulmukminin, sebutkan namanya."&nbsp;&nbsp; "Telah aku sebutkan namanya," jawabnya. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ia berkata lagi, "Wahai Abu Thufail, demi Allah, bila saja engkau bergabung bersama pengikutku yang awam yang dengan mereka aku berperang, mereka yang menyatakan ketaatannya kepadaku dan memanggilku <em>amirul mukminin</em>, yang siap berperang melawan orang-orang yang menentangku<em>.</em> Lalu, selama satu bulan saja aku sampaikan sebagian kebenaran yang aku ketahui yang terdapat di dalam al-Kitab yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad saw dan dengan sebagian yang aku dengar dari Rasulullah saw mereka pasti akan meninggalkanku sampai hanya sedikit saja yang tersisa bersamaku. Engkau dan orang-orang sepertimulah yang termasuk Syiahku.<br />&nbsp;<br />Aku terkejut dan bertanya, "Duhai amirulmukminin, aku dan mereka yang sepertiku berpisah darimu atau tetap bersamamu?&rdquo;<br />&nbsp;<br />"Tidak, tapi kalian tetap setia bersamaku," jawab Imam Ali. Lalu beliau menghampiriku seraya berbisik, "Sesungguhnya urusan kami sulit dan menyulitkan. Tidak dipahami dan tidak dibenarkan kecuali oleh tiga golongan: Malaikat, atau Nabi yang diutus, atau seorang hamba mukmin yang cerdas yang hatinya diuji dengan keimanan. Wahai Abu Thufail, ketika Rasulullah saw mangkat banyak orang yang murtad karena sesat dan dungu kecuali yang Allah jaga dengan wilayah kami, Ahlulbait.&rdquo;<br />&nbsp;<br /><strong>Aban membacakan kitab Sulaim kepada Ibnu Udzainah dan menyerahkannya kepadanya</strong><br />Umar bin Udzainah berkata, "Kemudian, kitab Sulaim diserahkan kepada Aban. Sebulan setelah itu Sulaim mangkat. Ini naskah kitab Sulaim bin Qais al-Amiri al-Hilali yang diserahkan kepada Abban bin Abi 'Iyash yang ia bacakan untukku. Menurut Abban, ia pernah membacakannya kepada Ali bin al-Husein as dan beliau berkata, "Sulaim benar, ini hadis-hadis kami, kami kenal betul hadis-hadis ini."<br />&nbsp;<br /><strong>Ucapan Nabi di saat-saat terakhir umurnya yang mulia</strong><br />Sulaim berkata, "Aku mendengar Salman al-Farisi berkata: Aku duduk di sisi pembaringan Nabi dalam sakitnya yang menghantarkan ajalnya. Tidak lama berselang, Fatimah masuk. Saat melihat betapa lemas tubuh Nabi, tak kuasa ia menahan tangis. Air mata membanjiri kedua pipinya. Nabi bertanya: Putriku, apa yang membuatmu menangis? Fatimah menjawab: Duhai Rasulullah, aku dan anakku takut kehilanganmu."<br />&nbsp;<br /><strong>Keluarga Muhammad pilihan Allah di muka bumi</strong><br />Kemudian Rasulullah berkata &ndash;dan kedua matanya berlinangan air mata&ndash; : &ldquo;Duhai Fatimah, ketahuilah sesungguhnya Allah swt lebih mengutamakan akhirat untuk keluarga kita daripada dunia. Dan bahwa sesungguhnya kebinasaan telah Allah tetapkan untuk seluruh makhluknya. Dan Allah swt telah melihat seluruh penduduk bumi dan memilihku sebagai Nabi. Lalu Ia melihat lagi dan memilih suamimu, dan menyuruhku mengawinkanmu dengannya. Ia juga memerintahkanku untuk menjadikannya saudara, mentri, <em>washi </em>(pengemban wasiat), serta mengangkatnya sebagai penggantiku untuk umatku.<br />Ayahmu yang paling utama dari para Nabi dan utusan Allah, dan suamimu sebaik-baik <em>washi</em> dan <em>waz&icirc;r </em>dan engkau yang paling pertama menyusulku dari antara keluargaku.<br />Kemudian ia melihat lagi ke bumi dan memilihmu dan memilih sebelas lelaki dari anakmu dan putra pamanku, suamimu.<br />&nbsp;<br /><strong>Berita gembira tentang Dua Belas Imam as</strong><br />Engkau pemimpin wanita ahli surga, dan kedua anakmu, Hasan dan Husein, dua penghulu pemuda surga, sedangkan Aku dan Saudaraku beserta sebelas Imam <em>washiku</em> sampai hari kiamat mereka para pemberi petunjuk yang selalu beroleh petunjuk. <em>Washi </em>pertama setelah saudaraku, al-Hasan kemudian al-Husein, lalu sembilan dari keturunan al-Husein, mereka berada dalam satu tempat di surga. Tiada tempat yang lebih dekat kepada Allah dari tempatku, kemudian tempatnya Ibrahim dan keluarga Ibrahim.<br />&nbsp;<br /><strong>Allah memuliakan Fatimah</strong><br />Ketahuilah &ndash;Duhai anakku&ndash; bahwa diantara kemuliaan Allah untukmu bahwa suamimu adalah umatku dan keluargaku yang paling baik dan utama. Ia yang paling awal beriman, yang paling sabar, dan paling berilmu. Jiwanya yang paling mulia, lidahnya yang paling jujur, hatinya yang paling pemberani, dan tanganya yang paling dermawan. Ia yang paling zuhud di dunia ini dan paling giat berusaha. Fatimah bergembira dengan berita dari Rasulullah saw itu.<br />&nbsp;<br /><strong>Keistimewaan-keistimewaan Amirulmukminin as</strong><br />Kemudian Rasulullah saw berkata kepadanya, "Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib memiliki delapan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, sesudah dan sebelumnya. Imannya kepada Allah dan Rasul-Nya sebelum siapapun. Tidak seorangpun umatku yang mendahuluinya dalam beriman. Pengetahuannya tentang kitabullah dan sunnahku. Tidak seorangpun umatku mengetahui seluruh ilmuku selain suamimu. Karena Allah swt mengajariku ilmu yang tidak diketahui selain oleh aku dan dia. Allah tidak mengajarkannya sekalipun kepada para Malaikatnya maupun Rasulnya tetapi mengajarkannya padaku, lalu memerintahkanku mengajarkannya kepada Ali, Aku pun melaksanakan perintah-Nya. Tidak seorangpun umatku yang mengetahui semua ilmuku, pemahamanku, dan pengetahuanku selain dirinya. Dan bahwa engkau &ndash;duhai putriku&ndash; isterinya. Dan sesungguhnya kedua putranya, cucuku, al-Hasan dan al-Husein, keduanya adalah titipan untuk umatku. Dan ia selalu memerintah kebajikan dan melarang kemungkaran. Dan sesungguhnya Allah swt mengajarkannya al-hikmah dan <em>fashl al-khith&acirc;b.</em><br />&nbsp;<br /><strong>Keistimewaan Ahlulbait as</strong><br />Duhai anakku, sesungguhnya kita, ahlulbait, kepada kita Allah berikan tujuh kemuliaan yang tidak diberikan kepada siapapun dari generasi awal maupun akhir. Aku penghulu para Nabi dan utusan dan yang terbaik diantara mereka. Washiku sebaik-baik washi. Dan mentriku sesudahku sebaik-baik mentri. Dan syahid kita sebaik-baik syahid, yakni Hamzah, pamanku. Fatimah bertanya, "Wahai Rasulullah, pemimpin syuhada yang terbunuh bersamamu?" "Tidak, tetapi penghulu para syahid dari generasi awal dan akhir selain para Nabi dan washi." Dan Ja'far bin Abi Thalib pemilik dua hijrah dan dua sayap yang terbang bersama malaikat di surga. Dan dua putramu, al-Hasan dan al-Husein, cucu umatku, dua penghulu pemuda surga. Dan dari kita &ndash;yang jiwaku berada dalam genggam-Nya&ndash; al-Mahdi umat ini yang dengannya Allah akan penuhi dunia dengan keadilan dan kedamaian setelah penuh dengan kedzaliman dan kekacauan. Fatimah bertanya, "Di antara mereka yang engkau sebut, siapakah yang lebih utama?<br />&nbsp;<br />Rasulullah menjawab, "Saudaraku, Ali, umatku yang paling baik.&nbsp; &nbsp;Hamzah dan Ja'far keduanya terbaik setelah Ali, dan sesudahmu dan sesudah kedua putraku, al-Hasan dan al-Husein dan setelah para <em>washi </em>dari anakku ini, sambil memegang al-Husein, diantara mereka, al-Mahdi. Dan yang sebelumnya lebih utama dari yang sesudahnya. Yang pertama lebih utama dari yang terakhir, karena ia imamnya dan yang terakhir <em>washi </em>yang pertama. Kita, ahlulbait, Allah telah memilihkan akhirat untuk kita daripada dunia.<br />&nbsp;<br /><strong>Nubuwat persekongkolan umatnya terhadap Ali </strong><br />Kemudian Rasulullah saw. melihat ke Fatimah, dan suaminya beserta kedua anaknya, dan berkata, "Wahai Salman, Aku bersaksi kepada Allah bahwa Aku perang terhadap siapa saja yang memerangi mereka dan damai kepada siapa yang damai dengan mereka. Bahwa mereka bersamaku di surga.<br />&nbsp;<br />Lalu Nabi berpaling kepada Ali as dan berkata, "Wahai Ali, Sepeninggalku engkau akan beroleh perlakuan kasar dari orang-orang Quraisy, mereka bersekongkol menentangmu dan menganiayamu. Bila engkau temukan para pendukung, hadapi mereka, perangi siapa saja yang menentangmu bersama orang-orang yang mengikutimu. Bila tidak, bersabarlah. Tahanlah tanganmu. Jangan engkau jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan. Sesungguhnya kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa. Ada contoh yang baik bagimu pada diri Harun. Ia berkata kepada saudaranya, Musa, "Sesungguhnya, kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja membunuhku." (al-A'raf[7]: 150)&nbsp;<br />&nbsp;<br />Sulaim berkata, "Ali bercerita kepadaku, "Aku sedang berjalan bersama Rasulullah saw di salah satu sudut kota Madinah. Kami tiba pada sebuah kebun, dan aku berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh kebun yang indah."<br />&nbsp;<br />Beliau menjawab, "Ya, alangkah indahnya kebun ini, dan kebunmu di surga lebih indah lagi." Kemudian kami sampai pada kebun yang lain. "Alangkah indahnya kebun ini," kataku lagi. "Ya, kebun ini indah, tapi kebunmu di surga lebih indah lagi."<br />&nbsp;<br />Demikian seterusnya sampai kami mendatangi tujuh buah kebun. Dan ketika kami sampai di jalan yang sepi, tiba-tiba beliau memelukku erat-erat sambil menangis keras-keras dan berkata, "Demi ayahku satu-satunya yang syahid." Aku kaget dan bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, duhai Rasulullah?"<br />&nbsp;<br />"Kebencian di dada suatu kaum, mereka tidak menampakkannya padamu kecuali setelah aku tiada. Kedengkian Badar dan warisan (kebencian) Uhud. Aku bertanya, "Apakah agamaku selamat." Ia menjawab, "Ya, agamamu selamat."<br />&nbsp;<br />Rasulullah melanjutkan sabdanya, "Maka berbahagialah engkau, wahai Ali, sesungguhnya hidup dan matimu bersamaku. Engkau saudaraku, <em>washiku</em>, pilihanku, mentriku, pewarisku, dan yang mewakiliku. Engkau yang membayarkan utangku, yang menjalankan amanatku, dan menyelesaikan kewajibanku. Engkau yang berperang di atas sunahku melawan umatku yang melanggar janjinya <em>(an-n&acirc;kts&icirc;n)</em>, yang keras kepala <em>(al-q&acirc;sith&icirc;n)</em>, dan yang memberontak <em>(al-m&acirc;riq&icirc;n).</em> Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa. Bagimu contoh yang baik dalam diri Harun ketika kaumnya membuatnya lemah dan hampir-hampir membunuhnya.<br />&nbsp;<br />Bersabarlah atas kedzaliman Quraisy dan persekongkolannya padamu. Sesungguhnya kedudukanmu seperti kedudukan Harun di sisi Musa dan pengikutnya dan kedudukan mereka seperti patung sapi dan para pengikutnya. Sesungguhnya ketika Musa menitipkan mereka kepada Harun, berkata, "Bila mereka berbuat dzalim dan Harun beroleh pendukung untuk melewan dengan dukungan mereka, bila tidak, ia tahan tangannya untuk menjaga darahnya dan tidak berpecahbelah diantara sesama.<br />&nbsp;<br />Wahai Ali, Allah swt tidak mengutus seorang Rasul kecuali bersamanya ada sekelompok yang beriman dengan sukarela dan juga yang beriman karena terpaksa. Kemudian kaum yang beriman karena terpaksa Allah jadikan berkuasa atas mereka yang beriman karena sukarela. Kelompok penguasa membunuhi mereka, agar mereka beroleh pahala yang lebih besar.&nbsp;<br />&nbsp;<br />Wahai Ali, sesungguhnya tidak akan berselisih suatu umat sepeninggal Nabinya kecuali bila pendukung kebatilan berkuasa atas pendukung kebenaran. Dan bahwa Allah swt telah menetapkan perselisihan dan perpecahan bagi umat ini. Sebenarnya, bila Dia berkehendak, bisa saja mereka semua dihimpun di atas satu petunjuk sehingga tidak ada dua orang diantara makhluknya yang berselisih, dan tidak ada yang bertengkar karena satu perkara, dan orang yang bukan utama <em>(al-mafdh&ucirc;l)</em> tidak akan mengingkari keutamaan orang yang paling utama. Bila Dia berkehendak, hukuman akan disegerakan sehingga terjadi perubahan dan orang yang dzalim didustakan dan kebenaran menemukan jalannya. Akan tetapi dunia dijadikan sebagai tempat berusaha dan akhirat sebagai tempat pembalasan, <em>"Supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik."</em> (QS. An-Najm[53]: 31)<br />&nbsp;<br />Aku berkata, "Puji Tuhan atas segala nikmat-Nya, sabar atas segala ujian-Nya, menerima dan ridla atas segala keputusan-Nya."<br />&nbsp;<br /><strong>Peristiwa Saqifah yang dituturkan oleh Bara' bin Azib</strong><br />Dari Sulaim, berkata,"Aku mendengar Bara' bin Azib berkisah, "Aku sangat mencintai Bani Hasyim, saat Rasulullah saw masih hidup dan setelah meninggalnya. Dan bila meninggal Rasulullah saw berwasiat kepada Ali as untuk tidak memandikannya selain dirinya. Tidak seorangpun selainnya boleh melihat auratnya. Tiada seseorang melihat aurat Rasulullah saw kecuali akan buta matanya.<br />&nbsp;<br />Ali berkata, "Duhai Rasulullah, siapa yang membantuku memandikanmu?" Beliau menjawab, "Jibril dan sekelompok Malaikat."<br />&nbsp;<br />Ali memandikan jasadnya, dibantu al-Fadhl bin Abbas dengan mata tertutup menuangkan air ke tubuhnya, dan para Malaikat membolak-balikkan jasad sucinya. Ketika Ali hendak melepas baju Rasulullah saw terdengar teriakan suara "Jangan engkau lepas baju Nabimu, wahai Ali."<br />&nbsp;<br />Ali memasukkan tangannya di bawah baju Nabi, lalu memandikannya dan memberinya wewangian dan mengkafaninya. Kemudian ia melepas bajunya saat mengkafani dan men<em>tahnith</em>nya.<br />&nbsp;<br /><strong>Kejutan para pendukung Saqifah</strong><br />Al-Bara' melanjutkan kisahnya, "Dan ketika Rasulullah saw wafat aku khawatir orang-orang Quraisy akan bersekongkol mengeluarkan urusan ini <em>(khilafah)</em> dari Bani Hasyim. Dan, setelah orang-orang memilih Abu Bakar dan kesedihanku atas meninggalnya Nabi belum berakhir, aku mendatangi mereka dan memperhatikan wajah mereka satu-satu persatu. Bani Hasyim sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah. Telah sampai kepadaku apa yang dikatakan Saad bin Abi Ubadah dan siapa yang mengikutinya dari sahabat yang bodoh. Aku tidak mengenal mereka semua. Saat itu aku paham, tidak ada gunanya lagi berargumentasi.<br />&nbsp;<br />Aku bolak-balik antara mereka dan Masjid. Aku mencari-cari beberapa tokoh Quraisy karena aku tidak menemukan Abu Bakar dan Umar. Belum sempat bertemu mereka tiba-tiba aku lihat Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah telah berada di Saqifah. Di tangan mereka kain dari Sana&rsquo;a, setiap ada yang lewat mereka jerat dengan kain itu. Bila mengenalinya, mereka tarik tangannya dan diusapkan atas tangan Abu Bakar, suka ataupun tidak.<br />&nbsp;<br />Aku merasa jijik dengan apa yang mereka lakukan, saat sedang berduka atas wafatnya Rasulullah. Aku keluar dengan segera hingga tiba di masjid. Kemudian mendatangi Bani Hasyim. Pintu mereka tertutup. Tidak ada orang lain bersama mereka. Aku ketuk pintu dengan keras, sambil berkata: &ldquo;Wahai Ahlulbait,&rdquo; Al-Fadhl bin Abbas menemuiku dengan segera, aku berkata kepadanya, &ldquo;Orang-orang telah membaiat Abu Bakar.&rdquo; al-Abbas berkata, &ldquo;Tangan kalian tidak akan dapat menggapainya sampai akhir zaman. Adapun aku telah perintahkan kalian (untuk memintanya dari Nabi), tapi kalian menolaknya.&rdquo; ***<br />&nbsp;<br /><strong>MUHAMMAD BABUL ULUM</strong> <font color="#248d6c">adalah Doktor bidang Hadis lulusan UIN Jakarta, Dosen STAI Sadra Jakarta, Direktur LPII Muthahhari Bandung, dan penulis buku </font><em><font color="#248d6c">Al-Muawiyyat</font>.</em><br />&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;<br /><font color="#5040ae">Naskah ini merupakan bahan kajian di LPII Muthahhari, yang dipresentasikan Sabtu malam Ahad, 14 Januari 2023, via zoom terbatas.</font><br />&nbsp;<br />&nbsp;<br /><br /></div> <hr style="width:100%;clear:both;visibility:hidden;"></hr>]]></content:encoded></item></channel></rss>