<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Al-Tanwir - Menjawab]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab]]></link><description><![CDATA[Menjawab]]></description><pubDate>Mon, 18 May 2026 14:14:31 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Jangan Sampai Tidak Berqurban Sama Sekali]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/jangan-sampai-tidak-berqurban-sama-sekali]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/jangan-sampai-tidak-berqurban-sama-sekali#comments]]></comments><pubDate>Sat, 09 Jul 2022 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[qurban]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/jangan-sampai-tidak-berqurban-sama-sekali</guid><description><![CDATA[Bagaimana hukum qurban yang dilakukan di sekolah-sekolah yang sebagian uangnya merupakan iuran dari murid?&nbsp;      Rasulullah saw pernah berqurban untuk seluruh umatnya. Ada sebuah hadis dari Jabir: Aku shalat Idul Adha bersama Rasulullah saw. Setelah selesai, diambil seekor kambing. Beliau menyembelihnya dan bersabda: Bismillah, Allahu Akbar. Ini qurbanku dan qurban yang tidak dapat berqurban dari umatku (HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Turmudzi).Berapa umat Rasulullah saw itu? Banyak sekali. Ol [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><em style="color:rgb(98, 98, 98)">Bagaimana hukum qurban yang dilakukan di sekolah-sekolah yang sebagian uangnya merupakan iuran dari murid?</em><span style="color:rgb(98, 98, 98)">&nbsp;</span></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Rasulullah saw pernah berqurban untuk seluruh umatnya. Ada sebuah hadis dari Jabir: <em>Aku shalat Idul Adha bersama Rasulullah saw. Setelah selesai, diambil seekor kambing. Beliau menyembelihnya dan bersabda: Bismillah, Allahu Akbar. Ini qurbanku dan qurban yang tidak dapat berqurban dari umatku</em> (HR Ahmad, Abu Dawud, dan At-Turmudzi).<br /><br />Berapa umat Rasulullah saw itu? Banyak sekali. Oleh karena itu, satu kelas boleh berqurban satu domba melalui iuran yang mereka kumpulkan. Idealnya, yang paling utama adalah berqurban satu domba untuk satu orang, satu sapi untuk tujuh orang. Itu yang paling utama. Sedangkan yang utama adalah berqurban bersama-sama. Qurban satu domba untuk sekian banyak orang. Berqurban seperti itu boleh. Yang jelek itu yang tidak berqurban sepeser pun. Ibnu Abbas setiap datang musim qurban selalu menyuruh <em>maula</em> (pembantu)-nya, pergi ke pasar untuk membeli daging. Kemudian Ibnu Abbas menyuruh membagikan daging itu. Bilal, katanya, menyembelih ayam kalau tidak ada domba yang bisa dia qurbankan.<br /><br />Jadi, artinya, kalau mengikuti kata Rasulullah saw adalah lakukanlah sunnahku ini semampu yang dapat kamu lakukan. Khusus tentang qurban ini mengingatkan lagi Anda pada kaidah ushul fiqih: <em>maalaa yudraku kulluh la yutraku kulluh </em>(apa yang tidak bisa dicapai seluruhnya jangan ditinggalkan seluruhnya). Kalau kita tidak bisa berqurban seekor sapi jangan sampai tidak berqurban sama sekali.<br />&nbsp;<br />[Jalaluddin Rakhmat,&nbsp;Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer. Bandung: Mizan, 1999. Halaman 91-92]<br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Yang harus Diajarkan adalah Nilai-nilai Islam]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/yang-harus-diajarkan-nilai-nilai-islam]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/yang-harus-diajarkan-nilai-nilai-islam#comments]]></comments><pubDate>Wed, 27 Jan 2021 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[pendidikan]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/yang-harus-diajarkan-nilai-nilai-islam</guid><description><![CDATA[PertanyaanIslam pernah jaya di bidang keilmuan. Yang terjadi sekarang, Islam becermin pada keilmuan Barat. Jadi, sistem pendidikan Islam seperti apa yang diperlukan oleh Indonesia? Saya melihat seakan-akan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia ini hilang orientasi.      JawabanKita tidak kehilangan orientasi pendidikan Islam. Yang harus kita perhatikan adalah kecenderungan kita menjatuhkan PAI menjadi sekadar disiplin ilmu-ilmu Islam saja. Yang diajarkan dalam kurikulum adalah hafalan Alqura [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><font color="#5040ae"><strong style="">Pertanyaan</strong><br />Islam pernah jaya di bidang keilmuan. Yang terjadi sekarang, Islam becermin pada keilmuan Barat. Jadi, sistem pendidikan Islam seperti apa yang diperlukan oleh Indonesia? Saya melihat seakan-akan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia ini hilang orientasi.</font></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban</strong><br />Kita tidak kehilangan orientasi pendidikan Islam. Yang harus kita perhatikan adalah kecenderungan kita menjatuhkan PAI menjadi sekadar disiplin ilmu-ilmu Islam saja. Yang diajarkan dalam kurikulum adalah hafalan Alquran atau hafalan bermuatan fiqih. Padahal, yang paling utama harus diajarkan adalah nilai-nilai Islam itu sendiri. ***<br />&nbsp;<br /><font color="#8d7824"><em>(Naskah ini ditranskrip dari kegiatan ilmiah bersama <strong>Dr Jalaluddin Rakhmat </strong>di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, </em><strong><em>26 Maret 2013</em></strong><em>)</em></font></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kondisi Pendidikan Agama Islam di Indonesia]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/kondisi-pendidikan-agama-islam-di-indonesia]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/kondisi-pendidikan-agama-islam-di-indonesia#comments]]></comments><pubDate>Tue, 26 Jan 2021 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[agama]]></category><category><![CDATA[pendidikan]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/kondisi-pendidikan-agama-islam-di-indonesia</guid><description><![CDATA[PertanyanAda tiga pertanyaan.&nbsp;Pertama, sebenarnya kondisi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia sekarang ini seperti apa?&nbsp;Kedua, apakah PAI di sekolah sudah bisa menjawab globalisasi yang menghampiri kita.&nbsp;Ketiga, apabila jam pelajaran PAI ditambah, bukan hanya seminggu sekali di kelas, akankah efektif untuk membentuk karakter untuk menjawab globalisasi?      JawabanDalam sebuah diskusi, seorang pembicara berkata bahwa saat ini pendidikan kita sudah terkena sekulerisasi. Saat  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><font color="#5040ae"><strong style="">Pertanyan</strong><br />Ada tiga pertanyaan.&nbsp;<em style="">Pertama</em>, sebenarnya kondisi Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia sekarang ini seperti apa?&nbsp;<em style="">Kedua</em>, apakah PAI di sekolah sudah bisa menjawab globalisasi yang menghampiri kita.&nbsp;<em style="">Ketiga</em>, apabila jam pelajaran PAI ditambah, bukan hanya seminggu sekali di kelas, akankah efektif untuk membentuk karakter untuk menjawab globalisasi?</font><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban</strong><br />Dalam sebuah diskusi, seorang pembicara berkata bahwa saat ini pendidikan kita sudah terkena sekulerisasi. Saat ini terjadi pemisahan antara mata pelajaran agama dengan mata pelajaran yang lain. Seharusnya pemisahan tersebut tidak perlu dilakukan.<br />&nbsp;<br />Kepadanya saya sampaikan bahwa ada perbedaan antara pelajaran agama Islam dengan pendidikan agama Islam. Antara agama Islam sebagai ilmu dan agama Islam sebagai pendidikan nilai jelas berbeda. Sebagai disiplin ilmu, agama memang harus terpisah. Itu bukan sekulerisasi. Bayangkan jika mata kuliah mahasiswa UIN (Universitas Islam Negeri) disatukan dengan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Yang akan terjadi adalah kekacauan. Sebagai disiplin ilmu, Islam memiliki banyak sekali cabang pengetahuan. Mempelajari ilmu-ilmu tersebut secara terpisah ditujukan untuk spesialisasi.<br />&nbsp;<br />Jawaban untuk pertanyaan berikutnya, yang kita perlukan bukan penambahan kurikulum, bukan pula penambahan jam pelajaran. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memadukan kurikulum yang tampak dan yang tersembunyi. Menurut saya, yang harus ditambah porsinya adalah <em>hidden curriculum</em>.<br />&nbsp;<br />Haidar Bagir yang mendapatkan pendidikan di Amerika. Suatu ketika, anaknya yang masih SD (sekolah dasar) bertanya tentang syarat sah wudu, berbagai jenis air, hingga rukun wudu. Haidar bertanya-tanya, mengapa pelajaran agama untuk anak sekolah dasar harus sedetail itu. Dia heran, apakah anaknya akan dididik menjadi mujtahid. Menurut Haidar, yang ditanyakan oleh anaknya adalah tugas para ahli fikih. &ldquo;Ajarkan saja kepada anak saya cara wudu. Praktik langsung. Satu kali pertemuan selesai. Mengapa guru harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk membahas hal sedetail itu?&rdquo;<br />&nbsp;<br />Dalam waktu dekat, saya akan diundang oleh Nurcholis Majid Society untuk membahas tentang keruntuhan agama-agama di dunia. Karen Amstrong juga akan hadir. Menurut saya bahwa agama di dunia yang akan jatuh adalah agama yang sektarian, yang mendudukkan nilai-nilai partikular. Agama yang seperti itu akan ditinggalkan di abad globalisasi ini. Sebaliknya, agama yang mengusung nilai-nilai universal akan relevan sampai kapan pun. Agama yang mengajarkan dan menyambungkan kasih sayang sesama manusia akan tetap ada. ***<br />&nbsp;<br /><font color="#24678d"><em>(Naskah ini ditranskrip dari kegiatan ilmiah bersama <strong>Dr Jalaluddin Rakhmat </strong>di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, </em><strong><em>26 Maret 2013</em></strong><strong><em>)</em></strong></font></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Apakah Benar Peringatan Asyura Membina Dendam Sejarah?]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/apakah-benar-peringatan-asyura-membina-dendam-sejarah]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/apakah-benar-peringatan-asyura-membina-dendam-sejarah#comments]]></comments><pubDate>Thu, 06 Aug 2020 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[asyura]]></category><category><![CDATA[sejarah]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/apakah-benar-peringatan-asyura-membina-dendam-sejarah</guid><description><![CDATA[Soal: Apakah benar peringatan asyura&nbsp; (yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharram) membina dendam sejarah?      Jawaban: Kami&nbsp; memperingati&nbsp; hari-hari&nbsp; kematian&nbsp; para&nbsp; syuhada Islam,&nbsp; terutama&nbsp; syuhada&nbsp; Karbala,&nbsp; merupakan&nbsp; bagian dari&nbsp; upaya&nbsp; menghidupkan&nbsp; nama&nbsp; besar,&nbsp; pejuangan,&nbsp; dan pengorbanan mereka untuk Islam. Oleh karena itu, Syiah selalu memperingati&nbsp; hari-hari&nbsp; bersejarah&nbsp; itu sepa [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><em><span style="color:rgb(98, 98, 98)"><strong>Soal</strong>: Apakah benar peringatan asyura&nbsp; (yang diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharram) membina dendam sejarah?</span></em></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban</strong>: Kami&nbsp; memperingati&nbsp; hari-hari&nbsp; kematian&nbsp; para&nbsp; syuhada Islam,&nbsp; terutama&nbsp; syuhada&nbsp; Karbala,&nbsp; merupakan&nbsp; bagian dari&nbsp; upaya&nbsp; menghidupkan&nbsp; nama&nbsp; besar,&nbsp; pejuangan,&nbsp; dan pengorbanan mereka untuk Islam. Oleh karena itu, Syiah selalu memperingati&nbsp; hari-hari&nbsp; bersejarah&nbsp; itu sepanjang&nbsp; tahun, terutama&nbsp; hari&nbsp; Asyura,&nbsp; yakni&nbsp; sepuluh&nbsp; hari&nbsp; pertama&nbsp; bulan Muharram. Pada&nbsp; hari&nbsp; itu,&nbsp; al-Imam&nbsp; Hussein,&nbsp; putra&nbsp; &lsquo;Ali bin Abi Thalib, putra Fathimah al-zahra, cucu Rasulullah saw dan &lsquo;penghulu paa pemuda syuga&rdquo;, sebagaimana sabda Nabi&nbsp; saw,&nbsp; syahid&nbsp; membela&nbsp; Islam.<br /><br />Syi&rsquo;ah&nbsp; memperingati hari&nbsp; kesyahidannya&nbsp; dan&nbsp; para&nbsp; syuhada&nbsp; yang&nbsp; berjuang bersamanya,&nbsp; menguraikan&nbsp; sejarah&nbsp; hidup,&nbsp; perjuangan, kepahlawanan dan&nbsp; cita-cita&nbsp; suci&nbsp; mereka,&nbsp; kemudian&nbsp; mem-bacakan doa untuk mereka. Syiah&nbsp; meyakini&nbsp; bahwa&nbsp; bani&nbsp; Umayyah&nbsp; telah&nbsp; mem-bangun&nbsp; pemerintahan&nbsp; yang&nbsp; amat&nbsp; membahayakan&nbsp; Islam, mengubah&nbsp; dan&nbsp; merusak&nbsp; syariat&nbsp; Islam,&nbsp; bahkan&nbsp; berusaha menghapus&nbsp; nilai-nilai&nbsp; Islam. Yazid&nbsp; adalah&nbsp; salah&nbsp; seorang dari mereka. Ia adalah penguasa yang zalim, bejat, pembuat maksiat&nbsp; dan&nbsp; jauh dari&nbsp; nilai-nilai Islam. Oleh&nbsp; karena itu Imam&nbsp; Husain&nbsp; bangkit&nbsp; menentangnya, yaitu&nbsp; pada&nbsp; tahun 61 H., tetapi&nbsp; Imam&nbsp; dan&nbsp; seluruh&nbsp; pembelanya&nbsp; gugur&nbsp; di&nbsp; bumi Karbala.<br /><br />Sementara&nbsp; kaum&nbsp; perempuan&nbsp; Ahlulbait&nbsp; Nabi&nbsp; saw diperlakukan sebagai tawanan. Pengorbanan&nbsp; ini&nbsp; telah&nbsp; menyadarkan&nbsp; kaum&nbsp; muslimin dewasa&nbsp; itu&nbsp; betapa&nbsp; bejatnya&nbsp; Bani&nbsp; Umayyah&nbsp; dan&nbsp; sekaligus membangkitkan&nbsp; semangat perlawanan&nbsp; yang&nbsp; luar&nbsp; biasa terhadap&nbsp; kekuasaan&nbsp; Bani&nbsp; Ummayyah.&nbsp;<br /><br />Pemberontakan demi penberontakan menentang kezaliman Bani Umayyah muncul&nbsp; silih&nbsp; berganti,&nbsp; hingga&nbsp; pada&nbsp; akhirnya berhasil meruntukan pilar-pilar kezaliman mereka dan menghapus nama&nbsp; mereka&nbsp; dari&nbsp; muka&nbsp; bumi&nbsp; untuk&nbsp; selama-lamanya.<br />Uniknya&nbsp; pada&nbsp; setiap&nbsp; pemberontakan&nbsp; menentang&nbsp; Bani Umayyah&nbsp; pasca Asyura&nbsp; bahkan&nbsp; hingga masa&nbsp; kekuasaan Bani&nbsp; Abbasiyah yang&nbsp; otoriter,&nbsp; para&nbsp; pemberontak&nbsp; justru menggunakan slogan Asyura. []<br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Potensi Kejahatan]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/august-05th-2020]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/august-05th-2020#comments]]></comments><pubDate>Tue, 04 Aug 2020 23:30:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[doa]]></category><category><![CDATA[neurosains]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/august-05th-2020</guid><description><![CDATA[PertanyaanDalam beberapa doa, kita memohon kepada Allah untuk melindungi kita dari kejahatan diri kita. Apakah itu ada kaitannya dengan bahasan tentang potensi kejahatan yang bisa terjadi karena kerusakan gen atau gen yang ada dalam diri kita?&#8203;      Jawaban Ada yang tidak disebutkan oleh Jim Fallon, ahli neurosains, yaitu bahwa Tuhanlah yang sebenarnya menyelamatkan dia. Seluruh perlengkapannya untuk jadi penjahat sudah ada, sudah disiapkan, tapi dia tidak jadi menjadi penjahat, karena Tuh [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong style="color:rgb(98, 98, 98)">Pertanyaan</strong><br /><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Dalam beberapa doa, kita memohon kepada Allah untuk melindungi kita dari kejahatan diri kita. Apakah itu ada kaitannya dengan bahasan tentang potensi kejahatan yang bisa terjadi karena kerusakan gen atau gen yang ada dalam diri kita?</span><br />&#8203;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban </strong><br />Ada yang tidak disebutkan oleh Jim Fallon, ahli neurosains, yaitu bahwa Tuhanlah yang sebenarnya menyelamatkan dia. Seluruh perlengkapannya untuk jadi penjahat sudah ada, sudah disiapkan, tapi dia tidak jadi menjadi penjahat, karena Tuhan menyelamatkan dia melalui cinta kasih keluarganya. Jadi memang pada ujungnya, Allah yang menyelamatkan kita. ***<br />&nbsp;<br /><font color="#5040ae"><em>Transkrip pengajian ahad bersama KH Jalaluddin Rakhmat, </em><em>16 Oktober 2012</em><br />&nbsp;</font><br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Tentang Kecaman]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/tentang-kecaman]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/tentang-kecaman#comments]]></comments><pubDate>Mon, 06 Jul 2020 23:30:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[Alquran]]></category><category><![CDATA[Isra Miraj]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/tentang-kecaman</guid><description><![CDATA[PertanyaanTentang kecaman yang dialamatkan kepada Bapak, Bapak menyatakan tidak akan membalas. Saya ingin pernyataan konkret yang singkat saja, apa tanggapan Bapak tentang kecaman tersebut.      JawabanDalam Alquran surat Ar-Rahman disebutkan: Dia yang Maha Kasih, dan dengan cinta kasih-Nya diajarkan Alquran, dan dengan cinta-Nya Dia ciptakan manusia, dan dengan cinta-Nya Dia ajarkan pembicaraan. Dengan kasih sayang-Nya Dia ciptakan matahari dan rembulan dalam perhitungan, Dan bersujud kepada-Ny [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><font color="#5848b7"><strong style="">Pertanyaan</strong><br />Tentang kecaman yang dialamatkan kepada Bapak, Bapak menyatakan tidak akan membalas. Saya ingin pernyataan konkret yang singkat saja, apa tanggapan Bapak tentang kecaman tersebut.</font><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban</strong><br />Dalam Alquran surat Ar-Rahman disebutkan: <em>Dia yang Maha Kasih, dan dengan cinta kasih-Nya diajarkan Alquran, dan dengan cinta-Nya Dia ciptakan manusia, dan dengan cinta-Nya Dia ajarkan pembicaraan. Dengan kasih sayang-Nya Dia ciptakan matahari dan rembulan dalam perhitungan, Dan bersujud kepada-Nya pepohonan dan gemintang&hellip;</em><br />&nbsp;<br />Ayat-ayat dalam surah ini sangat indah, dan sangat puitis. Disebutkan bahwa bangsa-bangsa di dunia ini diciptakan karena kasih sayang Tuhan.<br />&nbsp;<br />Dulu ada penyair Italia yang sangat dicintai Bung Karno. Dulu saya termasuk penentang Bung Karno. Kini saya jadi pencinta beliau. Karenanya, saya hendak menebus apa yang pernah saya katakan tentang beliau dan pemikiran beliau di masa lalu, dengan menceritakan kisah tentang beliau dalam berbagai kesempatan.<br />&nbsp;<br />Bung Karno mendirikan bangsa ini, dan mengorbankan seluruh hidupnya demi negara ini.&nbsp; Tapi sesudahnya, di negara ini pula dia dianiaya, diasingkan, dipenjarakan, dan dizalimi, kemudian dilupakan.<br />&nbsp;<br />Bangsa ini belum pernah mempunyai presiden yang intelektual seperti Bung Karno. Bukan hanya pemimpin, tapi juga inspirator. Dalam pidato-pidatonya, Bung karno sering mengutip Dante Alighieri. Kabarnya, <em>Divina Commedia</em> merupakan karya yang diilhami oleh peristiwa <em>Isra Miraj</em>. Karya Dante ini dibagi ke dalam tiga bagian besar, yang menceritakan perjalanan dari <em>inferno</em> ke <em>purgatorio</em> ke <em>paradiso</em>. Satu di antara kalimat yang ada dalam puisi panjangnya itu adalah: <em>Cintalah yang menggerakkan matahari dan seluruh gemintang</em><em>. </em>Itu adalah terjemahan dari QS Ar Rahman ayat 5-6:<br />&nbsp;<br />&nbsp;<strong>&#64830;</strong><strong>&#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1605;&#1618;&#1587;&#1615; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1605;&#1614;&#1585;&#1615; &#1576;&#1616;&#1581;&#1615;&#1587;&#1618;&#1576;&#1614;&#1575;&#1606;&#1613;</strong>&nbsp;<strong>&#64831;&#1637;&#64830;</strong>&nbsp;<strong>&#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1614;&#1617;&#1580;&#1618;&#1605;&#1615; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1588;&#1614;&#1617;&#1580;&#1614;&#1585;&#1615; &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1580;&#1615;&#1583;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;</strong>&nbsp;<strong>&#64831;&#1638;</strong><br />&#8203;<br />***<br /><em><font color="#8d7824">(Naskah ini ditranskrip dari kegiatan ilmiah bersama <strong>Dr Jalaluddin Rakhmat </strong>di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, <strong>26 Maret 2013)</strong></font></em><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Perubahan Cara Pandang dan Transfer Pahala]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/perubahan-cara-pandang-dan-transfer-pahala]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/perubahan-cara-pandang-dan-transfer-pahala#comments]]></comments><pubDate>Sun, 05 Jul 2020 23:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[pahala]]></category><category><![CDATA[perubahan]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/perubahan-cara-pandang-dan-transfer-pahala</guid><description><![CDATA[PertanyaanSaya mengingat Pak Jalal dulu adalah orang yang sangat tegas dalam membasmi &ldquo;TBC (takhayul, bidah, dan khurafat)&rdquo;. Sekarang saya melihat Pak Jalal yang lain. Saya bertanya-tanya apakah ini merupakan kemajuan atau kemunduran.&nbsp;Tentang transfer pahala, saya ingin membandingkan pernyataan Pak Jalal dengan ayat Alquran dan hadis yang menyatakan bahwa setiap manusia masing-masing bertanggung jawab atas perbuatannya ketika di dunia.&#8203;      Jawaban:Ada seorang psiakiter a [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><strong style="color:rgb(98, 98, 98)">Pertanyaan</strong><br /><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Saya mengingat Pak Jalal dulu adalah orang yang sangat tegas dalam membasmi &ldquo;TBC (takhayul, bidah, dan khurafat)&rdquo;. Sekarang saya melihat Pak Jalal yang lain. Saya bertanya-tanya apakah ini merupakan kemajuan atau kemunduran.</span><br /><span style="color:rgb(98, 98, 98)">&nbsp;</span><br /><span style="color:rgb(98, 98, 98)">Tentang transfer pahala, saya ingin membandingkan pernyataan Pak Jalal dengan ayat Alquran dan hadis yang menyatakan bahwa setiap manusia masing-masing bertanggung jawab atas perbuatannya ketika di dunia.</span><br />&#8203;</div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban</strong><strong>:</strong><br />Ada seorang psiakiter asal Tunisia yang melarikan diri ke Amerika. Dia menulis buku tentang hubungan antara sakit jiwa dengan penggunaan bahasa. Menurut dia, pengunaaan bahasa yang bisa menyebabkan sakit jiwa adalah konsep-konsepnya tetap, sedangkan yang direpresentasikan oleh konsep itu telah berubah.<br />&nbsp;<br />Saya tetap Jalaluddin Rakhmat (JR). JR 30 tahun yang lalu adalah JR saat ini. Konsepnya tetap JR, sehingga orang yang pernah bertemu JR tahun pada tahun 2003 akan menyimpan memori tentang JR saat itu. Misalnya saat itu JR adalah peneliti yang positivis, kuantitatif&mdash;itulah saya bertahun-tahun yang lalu. Tahun 1990-an saya aktif di berbagai organisasi, dan sangat tidak percaya pada adanya transfer pahala, misalnya. Sekarang ini saya berpendapat sebaliknya. Apakah itu perkembangan atau kemunduran saya tidak tahu.<br />&nbsp;<br />Jika mau sehat, kita jangan melihat konteks dengan makna yang sama di setiap zaman. Yang hari ini saya sampaikan adalah pendapat saya tahun di 2013. Tak perlu berdebat&nbsp; tentang apa yang pernah saya yakini tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu saya menentang Pancasila, sekarang saya percaya bahwa hanya Pancasila bisa menyelamatkan bangsa ini.&nbsp; Ketika kita dicabik-cabik oleh fanatisme dan sektarianisme, Pancasila bisa jadi pemersatu.<br />&nbsp;<br />Oleh beberapa rekan, saya dicap sebagai alien, karena yang sekarang saya sampaikan bertentangan dengan apa yang saya sampaikan beberapa belas tahun yang lalu, termasuk tentang Pancasila. Kepada mereka, saya hanya berkata, jika Pancasila bertentangan dengan Islam, <em>please </em>sebutkan satu saja nilai dalam pancasila yang bertentangan dengan Islam. Ketuhanan yang Maha Esa jelas berkaitan dengan tauhid. Sila kedua, apakah Islam mendukung kebinatangan yang zalim dan biadab? Dan seterusnya hingga sila kelima. Apakah ada yang bertentangan dengan Pancasila?<br />&nbsp;<br />Artinya, semoga pandangan saya sekarang ini lebih maju daripada pemikiran saya sebelumnya. Sekarang saya yakin bahwa esensi dari ajaran agama kita adalah kasih sayang, dan tujuan pendidikan selayaknya tidak lagi mengejar standar kuantifikasi.<br />&nbsp;<br />Cara pandang saya terhadap agama mengalami perubahan, dan memang tidak semua orang sepakat, tidak semua orang menghendakinya. Saat ini saya sedang menyelesaikan desertasi, untuk program doktoral ilmu agama. Desertasi saya itu sempat diprotes besar-besaran oleh teman-teman saya dari kalangan tertentu, sampai mereka menghalalkan darah saya. Saya dipandang sebagai penyebar kesesatan. Pihak universitas menyatakan bahwa seorang kandidat doktor tidak&nbsp; bisa dibatalkan karana tekanan masyarakat.<br />&nbsp;<br />Karena merasa tidak puas, mereka berdemo ke kantor gubernur. Pihak kantor gubernur menyatakan bahwa mereka tidak mengurusi kandidat doktoral di universitas. Ketika mereka mendatangi kantor DPRD I untuk menyuarakan protes yang sama, pihak DPRD I menjawab bahwa mereka tidak tidak akan mencampuri urusan dalam negeri universitas.<br />&nbsp;<br />Kasus itu cukup &ldquo;mengesankan,&rdquo; sehingga dalam pertemuan asosiasi guru besar se-Indonesia, salah satu tema yang dibahas adalah kebebasan akademis dari tekanan garis keras. Padahal, dulu saya juga orang yang berada di barisan garis keras itu. <em>I used to be part of them</em>.<br />&nbsp;<br />Jadi, saya sudah meninggalkan kuantifikasi, walaupun tidak mengharamkannya. Tetap ada hal-hal yang memerlukan angka sebagai standar, tetap ada sains yang perlu kuantifikasi.<br />Dulu ilmu sosial, misalnya di masa Max Weber, tidak peduli dengan kuantifikasi. Saat itu, hanya ilmu alam yang didasarkan pada kuantifikai. Lantas, ilmu sosial ingin &ldquo;meningkat derajatnya&rdquo; agar sama dengan ilmu alam, agar diakui sebagai sains. Karenanya, ilmu sosial mulai melakukan kuantifikasi, sehingga terjadilah apa yang sekarang ini terjadi.&nbsp;<br />&nbsp;<br />Pada saat terjadi Revolusi Prancis, ada seorang pemikir (<em>siapakah namanya?--AF</em>) yang berdemo, menuntut pembebasan tahanan Penjara Bastille yang menahan orang-orang yang berbeda pendapat dengan pemerintah. &nbsp;Dia berkata, &ldquo;Ada beberapa orang yang tidak pernah mengubah pendapat. Mereka adalah orang yang tidak pernah punya pendapat sama sekali. Ada orang yang tidak pernah berpikir, mereka adalah orang yang tak pernah berpikir sama sekali.&rdquo; &nbsp;&nbsp;<br />Jadi, saya memilih untuk menjadi orang yang selalu berubah karena saya selalu berpikir.<br />&nbsp;<br />Tentang keyakinan saya bahwa pahala tetap sampai kepada yang sudha meninggal karena: pertama, hadisnya sahih, diriwayatkan oleh Sahih Muslim pada bab khusus yang membahas masalah ini. Al Nawawi yang melakukan syarah tentang hadis-hadis Muslim mengungkapkan bahwa banyak hadis yang menyebutkan bahwa kita bisa mengalirkan pahala kepada orang yang sudah meninggal dunia, termasuk hadis apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat sesudahnya, dan anak yang shalih yang mendoakannya.<br />&nbsp;<br />Ada yang mengajukan keberatan dengan mengajuan ayat yang menyatakan bahwa setiap orang hanya akan memetik hasil usahanya sendiri. Setiap orang akan disiksa karena perbuatan buruknya sendiri, dan mendapatkan pahala karena perbuatan baiknya sendiri.<br />&nbsp;<br />Coba kita perhatikan, Thalhah menghadiahkan tanah untuk ibunya, demi kecintaannya kepada ibunya. Memiliki anak yang mencintai ibunya adalah hasil usaha ibunya juga. Jika ibunya tidak mendidik dia dengan baik, pasti Thalhah tidak&nbsp; akan mencintainya sedemikian rupa.<br /><br />Sekiranya saya meninggal dan Anda mengirimkan Al-Fatihah untuk saya, sedikit banyak itu karena hasil usaha saya juga. &nbsp;Mungkin saya pernah memberikan ilmu atau inspirasi kepada Anda, dan Anda mengenang apa yang pernah saya sampaikan dengan menghadiahkan Al-Fatihah. Jika saya berakhlak buruk, saya yakin Anda tidak akan menghadiahkan Al-Fatihah untuk saya.<br />&nbsp;<br />Jadi, ketika ada orang yang menghadiahkan sesuatu kepada seseorang itu pasti karena kebaikan orang itu juga.<br /><br />&nbsp;&#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1608;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;&#1618; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1585;&#1617;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1618;&#1608;&#1614;&#1609; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1608;&#1614;&#1606;&#1615;&#1608;&#1575;&#1618; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1573;&#1616;&#1579;&#1618;&#1605;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1615;&#1583;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1575;&#1578;&#1617;&#1614;&#1602;&#1615;&#1608;&#1575;&#1618; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1607;&#1614; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1607;&#1614; &#1588;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1583;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1616;&#1602;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;<br /><br />Ayat di atas adalah petikan Surat Al-Maidah: 2.<em> Hendaklah </em><em>&nbsp;kamu saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaaan, jangan saling bantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan.</em> Ayat itu bukan hanya untuk manusia yang masih hidup&mdash;dalam <em>ushul fiqih,</em> kita tidak bisa mengkhususkan sesuatu kecuali ada kejelasan tentang kekhususannya. Jadi yang dimaksud dalam Alquran adalah orang yang masih hidup atau pun yang mati. Ayat tu berlaku umum. Itulah pendapat saya di tahun 2013. ***<br />&nbsp;<br /><font color="#a82e2e"><em>(Naskah ini ditranskrip dari kegiatan ilmiah bersama <strong>Dr Jalaluddin Rakhmat</strong> di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, </em><strong><em>26 Maret 2013</em></strong><strong><em>)</em></strong></font><br /><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Banyaknya Daging Qurban yang Boleh Dimakan]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/banyaknya-daging-qurban-yang-boleh-dimakan]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/banyaknya-daging-qurban-yang-boleh-dimakan#comments]]></comments><pubDate>Thu, 02 Jul 2020 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[qurban]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/banyaknya-daging-qurban-yang-boleh-dimakan</guid><description><![CDATA[Mohon penjelasan, berapa banyak daging qurban yang boleh dimakan oleh seorang yang berqurban?&#8203;      Berapa saja boleh asal tidak terlalu banyak. Tidak memakannya juga tidak apa-apa. Al-Quran mengatakan bahwa fakulu minha, makanlah sebagian darinya. Ada yang mengatakan sepertiganya karena ... maka makanlah sebagian daripadanya; (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir (QS Al-Hajj: 28).Sebetulnya tidak ada batas yang jelas. Hanya saja tidak bisa kita tole [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><em style="color:rgb(98, 98, 98)">Mohon penjelasan, berapa banyak daging qurban yang boleh dimakan oleh seorang yang berqurban?&#8203;</em></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Berapa saja boleh asal tidak terlalu banyak. Tidak memakannya juga tidak apa-apa. Al-Quran mengatakan bahwa fakulu minha, makanlah sebagian darinya. Ada yang mengatakan sepertiganya karena ... maka makanlah sebagian daripadanya; (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir (QS Al-Hajj: 28).<br />Sebetulnya tidak ada batas yang jelas. Hanya saja tidak bisa kita toleransi kalau kita makan semuanya. Nanti tidak jelas apakah kita berqurban atau berpesta.<br />&nbsp;<br />[Jalaluddin Rakhmat,&nbsp;Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer. Bandung: Mizan, 1999. Halaman 90-91]<br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Menjual Kulit Hewan Qurban]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/menjual-kulit-hewan-qurban]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/menjual-kulit-hewan-qurban#comments]]></comments><pubDate>Wed, 01 Jul 2020 17:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[qurban]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/menjual-kulit-hewan-qurban</guid><description><![CDATA[Apabila qurban secara kelompok kemudian kulitnya diinfakkan oleh seseorang dengan cara menjualnya, bagaimana hukumnya?      Ada yang berpegang pada teks bahwa qurban itu harus dimakan semua karena di dalam qurban disebutkan: ... maka makanlah sebagian daripadanya; (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir (QS Al-Hajj: 28).&nbsp;Harus dimakan dan dibagikan sebagai makanan juga kepada orang-orang susah dan fakir miskin. Lalu, bagaimana dengan kulitnya? Menurut o [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><em style="color:rgb(98, 98, 98)">Apabila qurban secara kelompok kemudian kulitnya diinfakkan oleh seseorang dengan cara menjualnya, bagaimana hukumnya?</em></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph">Ada yang berpegang pada teks bahwa qurban itu harus dimakan semua karena di dalam qurban disebutkan: ... maka makanlah sebagian daripadanya; (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir (QS Al-Hajj: 28).<br />&nbsp;<br />Harus dimakan dan dibagikan sebagai makanan juga kepada orang-orang susah dan fakir miskin. Lalu, bagaimana dengan kulitnya? Menurut orang yang berpegang kepada teks itu kulitnya harus dimakan dan dibagikan juga. Tetapi, saya berpendapat bahwa yang dimakan itu yang harus bisa dimakan tentunya karena kalau tidak begitu, semua harus dimakan. Tanduknya, misalnya, harus Anda potong-potong dan dibagikan sebagai makanan. Tulangnya juga harus dimakan kalau mau konsisten benar-benar berpegang kepada teks.<br />&nbsp;<br /><em>[Jalaluddin Rakhmat,&nbsp;Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer. Bandung: Mizan, 1999. Halaman 89-90]</em><br /></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Hukum Berdoa Menyebut Allah bersama Rasulullah]]></title><link><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/hukum-berdoa-menyebut-allah-bersama-rasulullah]]></link><comments><![CDATA[https://www.altanwir.net/menjawab/hukum-berdoa-menyebut-allah-bersama-rasulullah#comments]]></comments><pubDate>Fri, 26 Jun 2020 20:00:00 GMT</pubDate><category><![CDATA[musyrik]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.altanwir.net/menjawab/hukum-berdoa-menyebut-allah-bersama-rasulullah</guid><description><![CDATA[Tanya: Dalam berdoa ada orang yang suka menyebut&nbsp;Ya Allah, Ya Rasulallah, bagaimana hukumnya?      Jawaban: Ada orang yang mengatakan itu hukumnya musyrik karena kita tidak boleh memanggil selain Allah dalam berdoa berdasarkan ayat, &ldquo;Janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah&rdquo; (Qs Asy-Syu&rsquo;ara/26: 13).&nbsp;Oleh karena itu, kalau menyebut &ldquo;Ya Allah, Ya Rasulallah&rdquo; itu musyrik karena kita memanggil selain Allah, yaitu Rasulullah. Tetapi,  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div class="paragraph"><font color="#24678d"><strong style="">Tanya</strong>: Dalam berdoa ada orang yang suka menyebut&nbsp;<em style="">Ya Allah, Ya Rasulallah</em>, bagaimana hukumnya?</font><br /></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><strong>Jawaban</strong>: Ada orang yang mengatakan itu hukumnya musyrik karena kita tidak boleh memanggil selain Allah dalam berdoa berdasarkan ayat, &ldquo;Janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah&rdquo; (Qs Asy-Syu&rsquo;ara/26: 13).<br />&nbsp;<br />Oleh karena itu, kalau menyebut &ldquo;Ya Allah, Ya Rasulallah&rdquo; itu musyrik karena kita memanggil selain Allah, yaitu Rasulullah. Tetapi, orang itu sebetulnya tidak lengkap berargumentasi, menurut mazhab yang lain. Kalau kita memanggil selain Allah tuhan yang lain, itu yang tidak boleh. Jadi, kalau dalam berdoa kita memanggil tuhan yang lain selain Allah itu musyrik. Pertanyaannya adalah apakah ketika kita menyebut Ya Rasulallah, kita menganggap Rasulullah itu tuhan? Kalau Rasulullah itu dianggap tuhan, maka hal itu tidak boleh.<br />&nbsp;<br />Dalam berdoa kita sering memanggil selain nama Allah, misalnya, memanggil Rasulullah. Doa itu artinya memanggil, menyeru, Contohnya dalam shalat. Anda menyebut <em>iyyaka na&rsquo;budu wa iyyaka nasta&rsquo;in</em> (kepada-Mu kami beribadah dan kepada-Mu kami meminta pertolongan). Nanti dalam shalat itu kita menyebut &ldquo;ka&rdquo; kepada Allah, tetapi kepada Rasulullah. <em>Assalamu&rsquo;alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakatuh </em>(Salam bagimu wahai Nabi, dan semoga rahmat Allah dan keberkahan-Nya dicurahkan kepadamu). Oleh karena itu, orang boleh menyebut <em>Ya Allah, Ya Rasulallah,</em> asal tidak ada keyakinan bahwa Rasul itu tuhan. Kalau Ya Allah, Ya Latta, Ya Uzza&mdash;Latta dan Uzza dianggap sebagai tuhan&mdash;maka itulah yang musyrik. ***<br />&nbsp;<br />Sumber <font color="#a82e2e">Jalaluddin Rakhmat,&nbsp;<em>Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer</em>. Bandung: Mizan, 1999; halaman 22-23.<br />&nbsp;</font></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>